Harga Emas Datar, Namun Menguat Sepanjang Agustus 2026

Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti

Harga Emas Datar, Namun Menguat Sepanjang Agustus 2026

Eko Nordiansyah • 1 September 2026 08:45

Chicago: Harga emas cenderung datar pada Senin, 31 Agustus 2026, saat para pelaku pasar logam mulia mencerna pidato bernada hawkish dari Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole serta lonjakan harga minyak di tengah eskalasi tajam konflik antara AS dan Iran.

Namun, harga emas spot menuju penutupan bulan Agustus yang gemilang dan berada di jalur untuk mencatatkan kinerja bulanan terbaik sejak Januari. Kenaikan ini didorong oleh apa yang disebut sebagai perdagangan debasement (antisipasi penurunan nilai mata uang).

Dikutip dari Investing, Selasa, 1 September 2026, harga emas spot turun 0,2 persen menjadi USD4.447,14 per ons, namun telah melonjak 10 persen sepanjang bulan tersebut. Kontrak berjangka emas turun 0,7 persen menjadi USD4.496,64 per ons, namun mencatatkan kenaikan bulanan sebesar 9,5 persen, kinerja terbaik sejak Februari.

AS dan Iran saling serang

Harga minyak mengalami pergerakan signifikan pada hari Senin, di mana kontrak berjangka minyak mentah Brent, terakhir tercatat naik 5,2 persen menjadi USD90,59 per barel.

Menjelang akhir pekan lalu, situasi di Timur Tengah berada dalam jalan buntu saat AS dan Iran berselisih mengenai Selat Hormuz, dengan kedua pihak secara sepihak mengklaim kendali atas jalur perairan vital tersebut.

Upaya mediator regional untuk membawa kedua belah pihak ke meja perundingan sebagian besar tidak membuahkan hasil, sementara pihak-pihak yang bertikai terus saling melontarkan retorika keras. Strategi Presiden Donald Trump belakangan ini tampaknya berfokus pada upaya menekan Iran secara ekonomi.
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Faktor pendorong harga emas

Di luar Timur Tengah, suku bunga AS dan pasar obligasi tetap menjadi pusat perhatian utama. Pidato utama yang sangat dinanti-nantikan dari Ketua The Fed, Warsh, dalam Simposium Kebijakan Ekonomi Jackson Hole tahunan pada Jumat, sebagian besar dinilai bernada hawkish.

Warsh menyatakan bahwa tren inflasi dasar di AS belum membaik secara signifikan dan menegaskan kembali bahwa fokus bank sentral haruslah pada penciptaan stabilitas harga.

Para pedagang merespons komentar Warsh dengan meningkatkan taruhan mereka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September. Menurut perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan tersebut kini mencapai hampir 64 persen, naik dari 57 persen sehari sebelumnya.

Investor juga melepas kepemilikan surat utang pemerintah AS setelah pidato tersebut, yang menyebabkan imbal hasil (yield) obligasi Treasury naik. Tren pelemahan harga obligasi ini berlanjut hingga hari Senin, di mana imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun terakhir tercatat naik 3,5 basis poin menjadi 4,757 persen, level tertinggi sejak pertengahan Januari 2025.

Indeks dolar AS melonjak pada hari Jumat menyusul pernyataan Warsh, mengingat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi umumnya cenderung memperkuat mata uang tersebut.

Dolar yang lebih kuat, pada gilirannya, cenderung menekan harga emas karena membuat logam mulia ini menjadi lebih mahal bagi pembeli asing. Harga emas sempat turun sekitar tiga persen setelah pidato Warsh.

Para pengamat kebijakan moneter kini akan mencermati serangkaian data pasar tenaga kerja minggu ini. Data lowongan kerja AS untuk bulan Juli akan dirilis pada hari Selasa, diikuti oleh laporan ketenagakerjaan sektor swasta dari ADP, dan laporan nonfarm payrolls bulan Agustus.

Sebelumnya pada bulan Agustus, harga emas melonjak di tengah kondisi pasar obligasi AS yang sangat fluktuatif. Pasar ini sebagian besar dilanda aksi jual akibat kekhawatiran akan inflasi, penerbitan utang korporasi, dan membengkaknya utang nasional AS. Langkah intervensi tak terduga dari Departemen Keuangan AS hanya memberikan dampak minim dalam menahan kenaikan imbal hasil obligasi.

(Eko Nordiansyah)