Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Bulan Ini Sudah Menguat Nyaris 20%
Husen Miftahudin • 1 August 2026 11:23
Houston: Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat waktu setempat dan berada di jalur kenaikan bulanan hampir 20 persen sepanjang Juli 2026. Penguatan dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 1 Agustus 2026, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Oktober naik 1,2 persen menjadi USD87,88 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak September turut naik 1,2 persen menjadi USD84,59 per barel.
Pergerakan harga minyak dipengaruhi meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah upaya gencatan senjata sementara gagal dipertahankan.
Situasi semakin memanas setelah Iran dilaporkan menyerang dua kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz serta menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut ditutup. Kekhawatiran pasar juga bertambah seiring meningkatnya risiko terhadap pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.
Sepanjang Juli, harga minyak bergerak sangat fluktuatif. Pada awal bulan, Brent dan WTI sempat menyentuh level terendah sejak Februari 2026. Namun, harga kemudian melonjak hingga mencapai puncaknya pada 23 Juli, didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Lalu lintas Selat Hormuz turun tajam
Perusahaan pelacak pelayaran Kpler mencatat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan. Data risiko maritim terbaru menunjukkan semakin besarnya perbedaan di dua titik strategis penting di kawasan ini. Penyeberangan Selat Hormuz turun 77 persen dari hari sebelumnya menjadi hanya lima kapal.
Menurut Kpler, seluruh kapal yang melintas menggunakan jalur pelayaran yang dikoordinasikan Iran. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya risiko operasional serta terbatasnya fleksibilitas rute pelayaran.
Sementara itu, lalu lintas di Selat Bab el-Mandeb masih berlangsung meski pelaku industri tetap memantau perkembangan keamanan di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya siap meningkatkan tekanan militer terhadap Iran apabila konflik terus berlanjut.
"Kita akan menyerang mereka, kita akan menyerang mereka dengan sangat keras. Dan pada suatu saat mereka akan berkata, 'Kami tidak tahan lagi'," ujar Trump. Meski demikian, Trump menyebut komunikasi diplomatik dengan Iran masih terus berlangsung.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Impor minyak Tiongkok jeblok
Di sisi lain, Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) melaporkan impor minyak mentah Tiongkok pada kuartal II-2026 turun 32 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi sekitar 8,1 juta barel per hari.
Pada Mei dan Juni 2026, impor minyak Tiongkok bahkan turun di bawah 8 juta barel per hari untuk pertama kalinya sejak 2016. Menurut EIA, penurunan tersebut terutama dipengaruhi berkurangnya pengiriman minyak melalui jalur laut, khususnya dari Irak, Rusia, dan Uni Emirat Arab.
Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama keamanan pelayaran di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang menjadi jalur distribusi utama minyak dunia.
Gangguan terhadap kedua jalur tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan menjaga volatilitas harga minyak dalam jangka pendek.