Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Naik Tipis Hari Ini, Brent Dijual USD89/Barel di Asia
Husen Miftahudin • 31 July 2026 08:25
Jakarta: Harga minyak dunia menguat tipis pada perdagangan Asia, Jumat, 31 Juli 2026. Kenaikan dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi global setelah eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Mengutip Investing.com, harga minyak mentah Brent untuk kontrak September naik 0,7 persen menjadi USD89,64 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,6 persen ke USD84,06 per barel.
Meski menguat pada perdagangan harian, kedua kontrak acuan tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan hampir tujuh persen setelah muncul harapan tercapainya perundingan damai pada awal pekan.
Namun secara bulanan, harga minyak dunia diperkirakan melonjak sekitar 21 persen sepanjang Juli. Ini menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.
Eskalasi konflik Timur Tengah dorong kenaikan harga
Sentimen utama yang menopang harga minyak berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan kembali meningkat setelah serangan Amerika Serikat terhadap sasaran militer Iran memicu serangan balasan berupa rudal yang menyasar posisi AS dan sekutunya di kawasan.
Pasar juga mencermati meluasnya konflik ke Mesir. Sebuah drone dilaporkan menyerang kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, dekat Terusan Suez, pada Rabu, 29 Juli 2026. Insiden tersebut memicu kebakaran dan meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Peristiwa tersebut memunculkan risiko terganggunya pengiriman energi melalui Terusan Suez dan pipa SUMED, yang menjadi rute utama distribusi minyak mentah dan produk olahan dari Timur Tengah menuju Eropa.
Di saat yang sama, ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah juga meningkat seiring aksi kelompok Houthi, sementara Iran tetap menunjukkan pengaruhnya terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong sejumlah perusahaan pelayaran mengevaluasi kembali rute pengiriman mereka.
Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, Arab Saudi menggelar pembahasan dengan perwakilan dari 43 negara terkait pembentukan koalisi maritim untuk meningkatkan perlindungan pelayaran di Laut Merah dan wilayah sekitarnya.
Langkah tersebut dilakukan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan tekanan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.
Selain faktor geopolitik, serangan terhadap sejumlah kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia juga memperketat pasokan produk energi seperti bensin, solar, dan bahan bakar jet. Kondisi tersebut menjaga margin penyulingan tetap berada pada level tinggi.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Stok minyak AS turun tajam
Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dukungan dari penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang lebih besar dari perkiraan.
Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu, 29 Juli 2026, menunjukkan stok minyak mentah komersial turun 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel pada pekan yang berakhir 24 Juli 2026.
Penurunan tersebut menempatkan persediaan minyak mentah komersial AS ke level terendah sejak 2018, sehingga memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan global apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut.