Dolar AS Melemah, Pasar Cermati Sinyal Berbeda dari AS dan Iran

Mata uang dolar AS. Foto: Xinhua.

Dolar AS Melemah, Pasar Cermati Sinyal Berbeda dari AS dan Iran

Husen Miftahudin • 4 August 2026 08:43

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin waktu setempat, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan hubungan diplomatik antara AS dan Iran. Perbedaan pernyataan dari kedua negara membuat investor memilih bersikap hati-hati terhadap aset berisiko maupun mata uang utama.
 
Mengutip Xinhua, Selasa, 4 Agustus 2026, indeks dolar (DXY) yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,02 persen menjadi 99,894.
 
Pada penutupan perdagangan di New York, euro melemah menjadi USD1,1514 dari sebelumnya USD1,1531. Poundsterling Inggris juga turun ke level USD1,3431 dari USD1,3482 pada sesi sebelumnya.
 
Di sisi lain, dolar AS diperdagangkan pada level 156,74 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan 158,90 yen pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, nilai tukar dolar naik menjadi 0,8101 franc Swiss dari 0,8082 franc Swiss.
 
Mata uang Negeri Paman Sam juga menguat ke 1,4045 dolar Kanada dari 1,4019 dolar Kanada. Dolar AS juga meningkat menjadi 9,5557 krona Swedia dari 9,5193 krona Swedia.
 



(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Pernyataan AS dan Iran berbeda arah

 
Pergerakan pasar dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut pembicaraan dengan Iran sedang berlangsung. Trump juga menyebut proses tersebut sebagai "kesempatan terakhir" bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan.
 
"Kita sedang membicarakan selat itu, pembukaan selat itu, dan pembukaannya benar-benar besok," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
 
Namun, Iran membantah adanya proses negosiasi dengan Washington. Media pemerintah Iran mengutip juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei yang menegaskan negaranya tidak sedang melakukan pembicaraan dengan AS.
 
Menurut Baqaei, Iran saat ini berkoordinasi dengan Oman untuk membahas pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
 
Perbedaan pernyataan dari Washington dan Teheran membuat pelaku pasar belum mengambil posisi secara agresif. Investor masih menunggu perkembangan lebih lanjut mengenai prospek hubungan kedua negara, terutama terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

(Husen Miftahudin)