Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock
Wall Street Ditutup Melemah Dipicu Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Eko Nordiansyah • 5 September 2026 08:26
New York: Wall Street ditutup melemah pada Jumat, 4 September 2026, setelah laporan nonfarm payrolls AS yang krusial menunjukkan hasil jauh lebih kuat dari perkiraan. Ini mendorong para pedagang untuk meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini.
Dikutip dari Investing, Sabtu, 5 September 2026, indeks acuan S&P 500 turun 0,4 persen dan ditutup pada level 7.716,95 poin, indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,5 persen ke level 53.413,60 poin, dan indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,3 persen dan berakhir di level 26.506,99 poin.
Saham AS juga mencatatkan kinerja mingguan yang beragam, karena sentimen pasar tertekan oleh aksi jual obligasi yang terus berlanjut dan lonjakan harga minyak.
Selama sepekan, S&P naik 0,1 persen, Nasdaq naik 0,4 persen, dan Dow turun 0,3 persen.
Pertumbuhan lapangan kerja AS melampaui perkiraan
Fokus utama pada Jumat tertuju pada laporan nonfarm payrolls bulan Agustus. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, jumlah lapangan kerja bertambah 162 ribu pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari angka perkiraan sebesar 55 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1 persen.Sementara itu, total nonfarm payrolls untuk Juni dan Juli secara gabungan tercatat 55 ribu lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya. Laporan ketenagakerjaan ini muncul di saat suku bunga sedang mendapat sorotan tajam di tengah situasi yang rumit bagi The Fed.
Indikator inflasi pilihan bank sentral—indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE)—terus berada di atas target jangka panjang sebesar dua persen selama 65 bulan berturut-turut, yang memicu perdebatan di dalam Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai arah kebijakan moneter di masa depan.
Baca Juga :
Rupiah Menguat di Jumat Sore
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: iStock)
Para pelaku pasar meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga akhir bulan ini, karena kombinasi antara pasar tenaga kerja yang tangguh dan inflasi yang tetap tinggi mengindikasikan ekonomi yang mengalami overheating (panas berlebih) akibat tekanan harga. Dalam situasi seperti ini, bank sentral biasanya mempertimbangkan pengetatan kebijakan.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang FOMC menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada tanggal 16 September meningkat menjadi sekitar 60 persen setelah rilis data ketenagakerjaan, naik dari sebelumnya sekitar 52 persen.
Kini perhatian tertuju pada laporan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS bulan Agustus yang akan dirilis pekan depan; data ini berpotensi mendorong The Fed untuk mengambil keputusan tegas, baik menaikkan suku bunga maupun mempertahankannya di tingkat saat ini.
Trump mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga
Presiden Donald Trump memuji data ketenagakerjaan tersebut dan mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga, sembari mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS jika hal itu tidak dilakukan.Langkah ini menandai tindakan paling vokal dari pemimpin AS tersebut dalam menekan bank sentral sejak Kevin Warsh mengambil alih posisi ketua The Fed.
"Turunkan suku bunga atai saya akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang membuat kita mengalami defisit. Itu lebih baik daripada tarif! Dewan The Fed, dengan pemimpin barunya yang hebat, harus bertindak cerdas—jadilah PATRIOT untuk sekali ini. Suku bunga tinggi menempatkan AS dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan, dan saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya.
Desakan Trump untuk menurunkan suku bunga mengingatkan kembali pada tekanan serupa yang pernah dilakukannya terhadap mantan ketua The Fed, Jerome Powell, selama masa jabatannya.
Trump sering mengkritik Powell karena tidak melonggarkan kebijakan, bahkan melontarkan julukan seperti "Too Late" (terlambat) dan membuka penyelidikan kriminal terhadapnya, yang memicu kekhawatiran mengenai independensi bank sentral. Sejak Warsh mengambil alih posisi tersebut pada bulan Mei, Trump tampak tidak terlalu vokal mengenai pemangkasan suku bunga.
Aksi jual pada surat utang pemerintah AS kembali terjadi menyusul meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, terutama pada tenor jangka pendek yang lebih sensitif terhadap pengetatan kebijakan dalam waktu dekat. Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun naik 3,8 basis poin menjadi 4,372 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,782 persen.