Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Pukul Mundur Dolar AS di Rabu Pagi Ini
Husen Miftahudin • 14 January 2026 09:51
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini akhirnya mengalami penguatan, setelah berhari-hari terus melemah.
Mengutip data Bloomberg, Rabu, 14 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.38 WIB berada di level Rp16.868 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat tipis sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp16.877 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.870 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.870 per USD hingga Rp16.900 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Rupiah Ambles Semakin Dalam ke Rp16.876,5 per USD Sore Ini |
Pasar terguncang 'campur tangan' Trump di Fed
Ibrahim mengungkapkan, kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar yang telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di AS, di mana jaksa telah meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Fed Jerome Powell.
"Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS," jelas Ibrahim.
Ketua Jerome Powell mengatakan tindakan Departemen Kehakiman (DOJ) bermotivasi politik, menekankan itu hanyalah dalih campur tangan politik terhadap independensi Fed.
Di sisi lain, Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dengan kekerasan yang meluas dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran. Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.
Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25 persen pada negara mana pun yang berbisnis dengan Iran, sebuah langkah yang bertujuan untuk mengisolasi Teheran secara ekonomi. Sebuah laporan mengatakan Trump diperkirakan akan bertemu dengan penasihat senior pada Selasa untuk membahas opsi terkait Iran.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Purbaya tarik Rp75 triliun dana pemerintah
Keputusan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menarik penempatan dana di bank sebesar Rp75 triliun dinilai tidak akan mempengaruhi penyaluran kredit perbankan. "Penarikan dana tersebut tidak berisiko mengganggu penyaluran kredit perbankan karena kondisi likuiditas saat ini masih berada pada level aman," tegas Ibrahim.
Masih terjaganya likuiditas perbankan terlihat dari masih tingginya nilai kredit yang sudah disetujui tetapi belum dicairkan atau undisbursed loan, yakni sebesar Rp2,5 triliun atau 23,18 persen dari plafon kredit yang tersedia per November 2025.
"Persoalan utama perbankan saat ini bukan berada di sisi likuiditas atau supply side, melainkan pada lemahnya permintaan kredit atau demand side. Hal ini tecermin dari pertumbuhan kredit yang masih lemah meski Purbaya telah menempatkan dana pemerintah dengan total nilai Rp276 triliun di perbankan sejak September 2025," urai dia.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan kredit perbankan hingga November 2025 hanya mencapai 7,74 persen secara tahunan. Angka tersebut berada di bawah proyeksi BI yang mematok pertumbuhan kredit 8-11 persen sepanjang 2025.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank kurang efektif untuk mendorong peningkatan permintaan kredit sehingga efeknya ke ekonomi pun tidak signifikan.
Guna untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah bersama BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mencari terobosan guna mengerek permintaan kredit. Salah satunya melalui peningkatan belanja pemerintah agar aktivitas ekonomi bergerak lebih agresif.
"Selain itu, stimulus fiskal berupa pengurangan pajak bagi dunia usaha juga dinilai penting agar pelaku usaha lebih bergairah melakukan ekspansi, bukan sekadar bersikap wait and see," tutur Ibrahim.