Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Rupiah Ditutup di Level Rp17.839
Husen Miftahudin • 2 June 2026 15:51
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 2 Juni 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.839 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 34 poin atau setara 0,19 persen dari posisi Rp17.805 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini mata uang rupiah ditutup melemah 34 poin, sebelumnya sempat melemah 85 poin di level Rp17.839 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp17.805 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.879 per USD. Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.863 per USD turun 34 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.883 per USD.
| Baca juga: Rupiah Dibuka ke Rp17.866/USD Selasa Pagi |
Pembicaraan AS-Iran masih berlangsung
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.
Trump mengatakan dia tidak keberatan jika pembicaraan berakhir. Tetapi tak lama kemudian, ia mengeluarkan unggahan di media sosial yang mengatakan pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan mengatakan ia mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz dalam minggu depan.
Sementara itu, Lebanon mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran. Iran secara efektif telah menghentikan hampir semua pengiriman non-Iran ke dan dari Teluk sejak perang dimulai, mencekik sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global dan mendorong harga naik 50 persen atau lebih.
Selain itu, Trump pada Senin menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi. Proklamasi tersebut menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25 persen menjadi 15 persen.
Proklamasi tersebut menetapkan tarif 15 persen untuk peralatan industri bergerak, seperti buldoser dan forklift. Perubahan ini akan berlaku hingga 31 Desember 2027 untuk mendorong investasi jangka pendek yang akan membangun kembali basis industri negara.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Indonesia alami inflasi 3,08%
Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan (yoy) pada Mei 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Adapun secara tahun kalender (ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35 persen dan secara bulanan (mtm) sebesar 0,28 persen.
Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026. Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.
Berdasarkan laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama dua bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari.
Kemudian, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda. Kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surflus perdagangan nasional.
Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 mencapai USD5,64 miliar. Neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840 per USD hingga Rp17.900 per USD," jelas Ibrahim.