Ilustrasi emas batangan. Foto: Investopedia.
Harga Emas Diramal Bakal Menguat, Balik Lagi ke Level USD5.000
Husen Miftahudin • 19 February 2026 10:18
Jakarta: Harga emas dunia menunjukkan pemulihan signifikan pada perdagangan Kamis setelah sempat mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Logam mulia tersebut kembali menguat seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven, dipicu oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Berdasarkan analisis Dupoin Futures, potensi penguatan emas masih terbuka lebar selama momentum bullish tetap terjaga.
Pada awal sesi perdagangan Asia, harga emas (XAU/USD) tercatat bertahan di kisaran USD4.985 per ons, mencerminkan adanya minat beli yang cukup kuat setelah sebelumnya mengalami koreksi lebih dari dua persen. Pemulihan ini didorong oleh aksi ambil posisi investor menjelang rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC), yang diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Diketahui, bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen dalam pertemuan Januari, namun perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan terkait prospek pelonggaran moneter masih menjadi perhatian utama pasar.
Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menjelaskan secara teknikal, struktur pergerakan harga emas saat ini menunjukkan indikasi tren bullish yang semakin kuat. Hal ini tercermin dari kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average yang mendukung kelanjutan tren naik dalam jangka pendek. Menurut dia, selama harga mampu bertahan di atas area support penting, peluang emas untuk melanjutkan penguatan masih cukup besar.
"Berdasarkan indikator teknikal yang terbentuk, tren bullish pada XAU/USD masih dominan. Jika momentum penguatan terus berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance berikutnya di kisaran USD5.041. Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi apabila harga gagal mempertahankan momentum naik," jelas Andy dalam riset hariannya, Kamis, 19 Februari 2026.
Ia menambahkan level support terdekat yang perlu diperhatikan berada di sekitar USD4.911. Jika harga turun dan menembus area tersebut, maka emas berpotensi mengalami koreksi lebih dalam sebelum kembali menemukan keseimbangan baru. Oleh karena itu, area support dan resistance saat ini menjadi acuan penting bagi investor dalam menentukan strategi perdagangan jangka pendek.
Dari sisi fundamental, peningkatan ketegangan geopolitik turut memberikan dorongan tambahan bagi harga emas. Pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang menyebut Iran belum memenuhi tuntutan utama dalam negosiasi nuklir memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik.
Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika diplomasi gagal semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian global.
| Baca juga: Harga Emas Merangkak Naik, Tapi Masih di Bawah USD5.000 |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ekspektasi pasar soal kebijakan suku bunga Fed
Di sisi lain, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Risalah FOMC terbaru menunjukkan bahwa sebagian pejabat bank sentral masih berhati-hati terhadap risiko inflasi, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi kembali meningkat. Kondisi ini sempat memberikan dukungan terhadap dolar AS, yang secara tradisional menjadi faktor pembatas bagi kenaikan harga emas.
Namun demikian, data ekonomi AS yang beragam memberikan gambaran yang kompleks. Penurunan inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (CPI) memberikan harapan terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter di masa mendatang, sementara kekuatan pasar tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih cukup solid. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan volatilitas di pasar emas, sekaligus membuka peluang bagi pergerakan harga yang dinamis.
Andy menilai dalam jangka pendek, arah pergerakan emas akan sangat dipengaruhi oleh rilis data ekonomi penting AS, termasuk klaim pengangguran awal, penjualan rumah tertunda, serta data Produk Domestik Bruto (PDB) dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE). Data-data tersebut akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai kondisi ekonomi AS dan potensi langkah kebijakan The Fed ke depan.
Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan selama sentimen safe-haven tetap dominan dan indikator teknikal mendukung.
"Dengan level resistance di USD5.041 dan support USDdi 4.911, investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan pasar dan mengelola risiko dengan disiplin, mengingat volatilitas masih berpotensi tinggi dalam waktu dekat," kata Andy.