Rupiah Ditutup Turun 0,12% ke Level Rp16.892

Rupiah. Foto: dok MI.

Rupiah Ditutup Turun 0,12% ke Level Rp16.892

Husen Miftahudin • 4 March 2026 15:48

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini kembali mengalami penurunan.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 4 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.892 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 20 poin atau setara 0,12 persen dari posisi Rp16.872 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 20 poin, sebelumnya sempat melemah 60 poin di level Rp16.892 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.872 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.

Di perdagangan hari ini, rentang pergerakan rupiah berada pada level Rp16.885 per USD hingga Rp16.938 per USD. Sementara year to date (ytd) return tercatat 1,27 persen.

Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.880 per USD. Rupiah melemah 15 poin atau setara 0,09 persen dari Rp16.865 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.911 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 41 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.870 per USD.
 

Baca juga: BI Gencar Jaga Stabilisasi Rupiah di Tengah Gejolak Geopolitik AS-Iran


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Konflik Timur Tengah masih jadi sorotan pasar


Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen para pedagang yang mempertimbangkan risiko pasokan di tengah konflik Timur Tengah yang meluas, dimulai pada akhir pekan ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap militer Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Situasi terus memburuk ketika pasukan Israel dan AS melakukan serangan tambahan terhadap fasilitas yang terkait dengan Iran pada Selasa. Iran menanggapi dengan meningkatkan pengerahan militer di Teluk dan mengeluarkan peringatan kepada operator pelayaran global.

Teheran juga menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur air sempit yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global. Otoritas Iran bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang melewati selat tersebut.

Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak.

Mereka mencatat laporan yang mengatakan Irak telah mulai menghentikan produksi di ladang Rumaila, ladang terbesar di negara itu, dan di West Qurna 2, dengan 1,2 juta barel per hari dihentikan produksinya.

Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan menyediakan pengawalan untuk kapal komersial jika perlu dan menjanjikan dukungan pemerintah untuk menjamin jalur pelayaran yang aman.

"Meskipun eskalasi militer telah menopang harga, tanda-tanda upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran dapat meredam kenaikan lebih lanjut dalam waktu dekat," ungkap Ibrahim.

Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Kamis besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.890 per USD hingga Rp16.940 per USD. Kalau rupiah tembus di Rp17.000 bulan ini, maka target Rp17.400 tahun ini akan tercapai," jelas Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)