Kolektor dan pelaku numismatik, Bambang Suroso, di kediamannya di kawasan Jalan Klayatan Gang 2, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Kisah Kolektor Uang Kuno Merawat Jejak Sejarah Rupiah di Malang
Daviq Umar Al Faruq • 1 November 2026 18:40
Malang: Di tengah masifnya adopsi transaksi digital dan pembayaran nontunai yang kian menggeser kebiasaan masyarakat modern, eksistensi uang fisik masa lalu tetap memiliki tempat tersendiri. Lembaran rupiah dari masa lalu tersebut masih dirawat dan dikoleksi oleh para kolektor serta pegiat numismatik di Tanah Air.
Salah satu sosok perawat memori kolektif bangsa itu adalah Bambang Suroso, seorang pensiunan guru sekolah dasar asal Kota Malang, Jawa Timur, yang mendedikasikan lebih dari tiga dekade hidupnya di dunia numismatik. Sejak pertengahan era 1990-an, ia bergerak konsisten membagi waktu antara mendidik murid-muridnya dan menyusuri lorong-lorong pasar loak demi merawat warisan sejarah berupa uang kuno.
"Saya kan guru SD, nggih. Jadi pagi ngajar, sorenya di Pasar Loak Juanda," kenang Bambang di kawasan Jalan Klayatan Gang 2, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026.
Pria kelahiran 27 Desember 1958 tersebut tampak telaten menunjukkan deretan album koleksi serta toples kaca besar berisi bermacam keping koin antik. Perjalanan panjang Bambang di dunia jual-beli dan koleksi uang kuno ini sejatinya bermula dari sebuah ketidaksengajaan pada awal tahun 1994.
Saat itu, ia masih aktif mengajar sebagai guru SD sekaligus melakoni pekerjaan sampingan sebagai tukang loak barang bekas untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Rutinitas harian Bambang kala itu sangat padat, dimulai dari mengajar anak-anak di kelas hingga mencari penghasilan tambahan pada sore harinya. Sebelum terjun ke dunia perloakan, ia sempat bertahun-tahun menjadi petugas juru parkir di kawasan Pasar Klojen Malang.
Nasibnya berubah ketika pada Februari 1994, ia memutuskan memborong barang bekas berupa sebecak kertas koran dan majalah bekas. Niat awalnya sederhana, yakni memilah kertas-kertas tersebut berdasarkan jenisnya untuk dijual kembali ke pengepul loak.

Kolektor dan pelaku numismatik, Bambang Suroso, di kediamannya di kawasan Jalan Klayatan Gang 2, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Di tengah tumpukan kertas bekas tersebut, Bambang menemukan sebuah album gambar tebal yang menyimpan harta karun tak terduga. Di dalam album tersebut tersusun rapi puluhan lembar mata uang lama dari berbagai emisi penerbitan.
"Ternyata di dalam kertas itu ada satu buku gambar yang isinya uang kuno. Nah, ternyata uang itu tak simpan lalu tak jual di loak itu kok laku gitu loh. Nah sejak itulah saya tertarik pada uang," ujar Bambang.
Dari pengalaman pertama yang tak disengaja itu, rasa ingin tahu Bambang terhadap nilai sejarah uang lama semakin menggelora. Ia mulai menyisihkan pendapatan untuk membeli lembaran-lembaran uang kuno dari pedagang lain maupun dari masyarakat umum yang datang kepadanya.
Bambang yang mengabdi selama 35 tahun 10 bulan sebagai pendidik di beberapa SD Negeri di Kota Malang ini menyadari bahwa tiap mata uang memiliki narasi sejarah yang kuat. Demi memperdalam pengetahuannya, ia belajar secara otodidak melalui panduan katalog resmi numismatik Indonesia.
"Belajarnya dari katalog uang kuno. Ya ada patokan harganya itu," tutur pria yang dikaruniai 4 anak dan 6 cucu tersebut.
Seiring berjalannya waktu, koleksi Bambang semakin berkembang mencakup berbagai periode penting perjalanan moneter di Indonesia. Ia menyimpan lembaran mata uang zaman kolonial Hindia Belanda terbitan tahun 1930 hingga 1940-an yang memiliki nilai historis sangat tinggi.
Tak hanya uang kertas, Bambang juga merawat uang logam perak murni gulden dari era pemerintah kolonial. Ia menjelaskan bahwa keaslian uang perak kuno dapat diuji secara presisi melalui timbangan berat serta tekstur pinggiran koin.
"Kalau ditimbang 25 gram asli. Tapi kalau 26 pasti palsu ini. Bahannya bukan perak, mungkin dalamnya besi," jelas Bambang sambil menunjukkan koin perak koleksinya.
Koleksi lain yang tak kalah penting dalam catatan sejarah Indonesia adalah Oeang Republik Indonesia (ORI) emisi awal kemerdekaan tahun 1945 dan 1947. Selain itu, Bambang juga menyimpan uang kertas Republik Indonesia Serikat (RIS) pecahan Rp5 dan Rp10 yang terbit pada tahun 1950.

Kolektor dan pelaku numismatik, Bambang Suroso, di kediamannya di kawasan Jalan Klayatan Gang 2, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Ia menyoroti keunikan uang kertas RIS yang hanya beredar dalam waktu sangat singkat di tengah dinamika politik pasca-kemerdekaan. Uang tersebut ditarik kembali dari masyarakat setelah Indonesia kembali bentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"RIS itu kan hanya beredar 8 bulan. 1950 itu uangnya Rp5 sama Rp10 itu hanya beredar selama 8 bulan, Republik Indonesia Serikat. Setelah itu rupiah," papar Bambang.
Keanekaragaman koleksi Bambang juga menjangkau era Orde Lama dan Orde Baru, seperti uang kertas pecahan Rp1 dan Rp100 bergambar Presiden Soekarno terbitan tahun 1964. Dari sekian banyak koleksi, ada satu mata uang bernilai fantastis yang pernah ia jual kepada seorang kolektor senior di Jawa Timur.
Uang tersebut adalah pecahan Rp500 terbitan tahun 1957 yang populer dengan sebutan uang kertas bergambar harimau. Lembaran uang langka tersebut laku terjual seharga Rp2 juta pada tahun 2018 menjelang masa pensiunnya.
"Uang waktu itu aku jual itu gambar harimau, Rp500 tahun 1957. Laku Rp2 juta tahun 2018. Waktu itu saya mau pensiun itu," kata Bambang mengingat transaksi paling berkesan dalam perjalanannya.
Di antara ribuan pecahan uang kuno yang pernah singgah di tangannya, Bambang mengaku paling mengagumi mata uang Seri Sudirman terbitan tahun 1968. Kekagumannya pada sosok Jenderal Soedirman membuat seri pahlawan ini memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Kalau saya yang senang Pak Dirman, Seri Sudirman ini. Karena dia pahlawan, sama-sama jenderal besar. Pak Harto juga jenderal besar, Pak Karno juga," tutur Bambang.
Kreativitas Bambang di dunia numismatik tidak berhenti pada urusan jual-beli dan koleksi semata. Pada kurun waktu 2004 hingga 2009, ia memanfaatkan papan mading bekas sekolah yang direnovasi untuk membuat karya seni spektakuler berupa peta Indonesia dari susunan uang kertas kuno.
"Jadi 2004 sampai 2009 aku buat peta itu selama 5 tahun, itu petanya. Dari papan mading sekolahan, tak skala dulu baru buat peta," jelas Bambang.

Kolektor dan pelaku numismatik, Bambang Suroso, di kediamannya di kawasan Jalan Klayatan Gang 2, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 31 Oktober 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq
Selama puluhan tahun melakoni hobi ini, Bambang aktif berdagang di berbagai titik legendaris Kota Malang, mulai dari kawasan Jalan Juanda hingga Pasar Minggu. Pasca-pensiun dari guru SD pada 2018, ia memilih untuk fokus membuka lapak setiap akhir pekan di kawasan Pasar Comboran.
Ia mengungkapkan pembeli uang kuno tidak pernah sepi meski zaman terus berganti ke arah serbatunai. Menurut pengamatannya, peminat uang fisik kuno mayoritas berasal dari kalangan masyarakat mapan yang berburu kepuasan hobi serta investasi nilai sejarah.
"Kalau menurut saya tetap mahal. Sebab yang koleksi uang ini bukan orang menengah ke bawah, rata-rata menengah ke atas," tegas Bambang.
Di ujung hari tuanya, dedikasi Bambang Suroso dalam menjaga kepingan-kepingan sejarah uang lama menjelma sebagai jembatan masa lalu bagi generasi hari ini. Perjalanan panjangnya membuktikan bahwa secarik kertas usang dan koin logam berkarat akan selalu menyimpan cerita berharga tentang bagaimana kedaulatan negeri ini dipertahankan.