Foto: Dok. MTVN/Siti Nahdia Usman
Mengenal Kereta Api Luar Biasa, Saksi Pemerintahan RI Hijrah ke Yogyakarta
Putri Purnama Sari • 22 September 2026 15:49
Jakarta: Museum Transportasi TMII menyimpan Kereta Api Luar Biasa (KLB) Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia yang menjadi saksi salah satu peristiwa penting dalam sejarah bangsa.
Rangkaian kereta bernomor IL.8 dan IL.7 ini digunakan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, serta rombongan kabinet ketika Pemerintah Republik Indonesia berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta pada 3 Januari 1946.
Kereta yang kini dipamerkan di Museum Transportasi TMII tersebut dibuat pada 1919 di bengkel besar kereta api Staatsspoorwegen (SS) di Bandung. Sebelum digunakan oleh pemerintah Indonesia, kereta ini berfungsi sebagai kereta inspeksi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Saksi Hijrah Pemerintah RI ke Yogyakarta
Kereta Api Luar Biasa memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan pemerintahan Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Dilansir dari Facebook resmi Pemprov DKI Jakarta, KLB merupakan kereta yang dijalankan di luar jadwal perjalanan kereta api reguler karena digunakan untuk kebutuhan penting atau sangat mendesak.
Pada akhir 1945, situasi Jakarta tidak lagi kondusif. Sejumlah pemimpin Republik Indonesia menghadapi ancaman penculikan dan pembunuhan.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah memutuskan memindahkan pusat pemerintahan ke daerah yang dinilai lebih aman. Yogyakarta dipilih sebagai tujuan perpindahan pemerintahan, sementara kereta api digunakan sebagai moda transportasi karena dinilai lebih aman dibandingkan transportasi lainnya.
Djawatan Kereta Api kemudian menyiapkan dua unit kereta, yakni IL.7 dan IL.8, untuk membawa Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, serta rombongan kabinet menuju Yogyakarta.
Perjalanan dimulai pada 3 Januari 1946 pukul 17.30 WIB. Berdasarkan keterangan Pemprov DKI Jakarta, rangkaian KLB dikeluarkan dari Bengkel Manggarai menuju halaman belakang kediaman Presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56.
Demi menjaga kerahasiaan perjalanan, lampu kereta sengaja dimatikan saat meninggalkan Jakarta dan baru dinyalakan setelah memasuki wilayah Bekasi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 13 jam, rombongan tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta pada 4 Januari 1946 sekitar pukul 10.00 WIB. Kedatangan rombongan disambut Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII. Sejak perpindahan tersebut, Yogyakarta kemudian menjalankan perannya sebagai ibu kota Republik Indonesia.
Dalam pidato Dwidasawarsa pada 28 September 1965 di Istora Senayan, Presiden Soekarno menyebut Kereta Api Luar Biasa sebagai kereta yang berhasil menyelamatkan Presiden sekaligus negara karena memungkinkan pemerintahan Republik Indonesia tetap berjalan.
Spesifikasi Kereta Presiden

Foto: Dok. MTVN/Siti Nahdia Usman
Berdasarkan keterangan koleksi di Museum Transportasi TMII, Kereta Api Luar Biasa IL.8-IL.7 memiliki sejumlah spesifikasi sebagai berikut:
- Nomor kereta: IL.8-IL.7.
- Berat kosong: 38.100 kilogram.
- Panjang: 18.640 milimeter atau sekitar 18,64 meter.
- Tinggi: 3.695 milimeter.
- Lebar: 2.594 milimeter.
- Mulai dinas: 20 Mei 1919.
- Perawatan akhir: 18 Agustus 1981 di Balai Yasa Manggarai.
- Sistem pendingin menggunakan beberapa balok es yang ditempatkan di dalam kotak khusus. Udara kemudian dihembuskan melewati balok es sehingga udara dingin dapat bersirkulasi ke seluruh ruangan kereta.
- Sistem pengereman menggunakan udara hampa.
- Sistem penerangan menggunakan listrik arus searah 24 volt.
Interior Kereta Presiden
Bagian interior Kereta Api Luar Biasa dirancang untuk menunjang perjalanan Presiden, Wakil Presiden, dan rombongan kabinet selama perjalanan jarak jauh. Fasilitas yang terdapat di dalam kereta meliputi:
- Meja.
- Kursi yang dapat dipindahkan.
- Tempat duduk.
- Tempat tidur.
- Kasur dan bantal.
- Kamar khusus untuk pelayan kereta api.
- Kamar mandi yang dilengkapi bathtub dan toilet.
- Balkon di kedua ujung kereta.
Kereta Api Luar Biasa IL.8-IL.7 kini menjadi salah satu koleksi bersejarah di Museum Transportasi TMII. Pengunjung dapat melihat langsung rangkaian kereta yang pernah digunakan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan rombongan kabinet dalam perjalanan hijrah pemerintahan Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta.
(Siti Nahdia Usman)