Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.
Jelang Libur Panjang, Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp16.997
Husen Miftahudin • 17 March 2026 16:34
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini tidak mengalami perubahan, menjelang libur panjang Idulfitri.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 17 Maret 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.997 per USD. Mata uang Garuda tersebut stagnan dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Hari ini rupiah ditutup stagnan yang sebelumnya sempat mengalami penguatan 25 poin. Saat ini ditutup di Rp16.997 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Di perdagangan hari ini, rentang pergerakan rupiah berada pada level Rp16.968 per USD hingga Rp17.006 per USD. Sementara year to date (ytd) return tercatat 1,90 persen.
Sementara itu, data Yahoo Finance justru menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp16.980 per USD. Rupiah menguat tipis lima poin atau setara 0,03 persen dari Rp16.985 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.982 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik delapan poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.990 per USD.
| Baca juga: Rupiah Naik 20 Poin ke Rp16.977 per USD |
Investor masih pelototi gangguan minyak di Selat Hormuz
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen gangguan pengiriman minyak mentah di Selat Hormuz. Ini masih menjadi perhatian utama saat terjadi perang antara AS, Israel, dan Iran yang memasuki minggu ketiga dan belum ada satu kesepakatan pun gencatan senjata antara ketiga negara tersebut.
"Ini yang membuat harga minyak mentah dunia dan Brent crude oil mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kita tahu bahwa sebelum perang, ini untuk Brent dan crude oil itu mengalami kenaikan sampai saat ini 33 persen, kemudian crude oil itu 37 persen," papar dia.
Walaupun Presiden AS Donald Trump sudah meminta terhadap negara-negara anggota NATO membantu menyelesaikan masalah Selat Hormuz, kata Ibrahim, tapi Selat Hormuz sampai saat ini masih ditutup.
Di sisi lain, pemerintahan Iran mengatakan bahwa diperbolehkan kapal-kapal yang tidak ada hubungan dengan AS-Israel untuk bisa melewati Selat Hormuz. Artinya, ungkap Ibrahim, Iran hanya berfokus terhadap perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan AS dan Israel, ini pun berdampak negatif terhadap kenaikan harga minyak mentah yang terus menerus mengalami kenaikan
"Di sisi lain nanti malam bank sentral AS melakukan pertamuan yang kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga di 3,5 persen-3,75 persen. Fokus dari pelaku pasar saat ini tertuju pada panduan kebijakan bank sentral AS tentang ekonomi di AS setelah dampak kenaikan harga minyak saat ini yang kita tahu berdampak luar biasa terhadap perekonomian secara global," papar dia.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Upaya pemerintah tangkal pelebaran defisit
Di sisi lain, secara internal pemerintah akhirnya akan melakukan bagaimana caranya defisit anggaran tetap bertahan di bawah tiga persen. Meskipun pemerintah sebelumnya mengakui akan terjadi defisit anggaran di atas tiga persen, bahkan di atas empat persen.
"Tetapi rupanya pemerintah mengkaji ulang bagaimana cara defisit anggaran itu di bawah tiga persen dengan cara mengurangi beban-beban anggaran, biaya-biaya yang tidak perlu dilakukan," urai Ibrahim.
Sementara itu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI-Rate di leve 4,75 persen. Termasuk tidak mengubah deposit facility yang masih tetap di 3,75 persen serta bunga lending yang masih 5,50 persen.
"Kenapa BI masih tetap mempertahankan suku bunga tinggi sampai saat ini, karena kita melihat bahwa kondisi ekonomi global yang tak menentu akibat perang Timur Tengah ini cukup luar biasa apalagi setelah harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan," urai dia.
Menurut Ibrahim, tugas dari Bank Indonesia mempertahankan suku bunga adalah untuk meredakan kondisi ekonomi, menjaga agar inflasi tetap stabil dua persen di 2026, dan guna untuk memicu pertumb ekonomi Indonesia di bulan-bulan berikutnya
"Kita melihat bahwa dalam perdagangan libur nanti kemungkinan besar rupiah ini akan berfluktiatif, BI pun juga tetap melakukan intervensi di pasar spot terutama di DNDF yang kita tahu kemungkinan besar dalam minggu-minggu krusial terjadi perang besr antara Iran dan AS yang cukup signifikan, dan ini yang membuat mata uang rupiah kemungkinan besar mengalami pelemahan di atas Rp17 ribu," papar Ibrahim.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada pembukaan perdagangan setelah libur Idulfitri akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.870 per USD hingga Rp16.910 per USD," jelas Ibrahim.
"Kemungkinan besar rupiah pada tanggal 24 Maret akan diperdagangkan cukup melebar dan melemah di level Rp16.990 per USD hingga Rp17.075 per USD," jelas Ibrahim.