Dolar AS. Foto: dok MI.
Dolar AS Ambruk setelah Cetak Level Tertinggi, Euro dan Pound Ambil Momentum
Husen Miftahudin • 4 July 2026 09:05
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah dari level tertinggi hampir 13 bulan pada perdagangan Jumat waktu setempat setelah data ketenagakerjaan AS tercatat lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut meredakan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
Pelemahan dolar turut membuka ruang bagi penguatan euro dan sejumlah mata uang utama lainnya. Namun, aktivitas perdagangan tetap terbatas karena pasar keuangan AS libur memperingati Hari Kemerdekaan.
Mengutip Investing.com, Jumat, 4 Juli 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,52 persen menjadi 100,86. Penurunan itu memperpanjang pelemahan yang telah terjadi pada sesi sebelumnya.
Dolar juga diperkirakan mengakhiri tren penguatan selama dua pekan terakhir dengan penurunan sekitar 0,8 persen sepanjang pekan ini.
Sebelum data ketenagakerjaan dirilis, perangkat CME FedWatch memperkirakan peluang lebih dari 60 persen bagi Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, untuk menaikkan suku bunga pada September. Namun, setelah data tersebut dipublikasikan, proyeksi pasar bergeser menjadi ekspektasi suku bunga tetap bertahan hingga Oktober.
| Baca juga: Dolar AS Catat Pelemahan Terburuk sejak April |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Euro dan pound menguat
Pelemahan dolar mendorong penguatan mata uang utama Eropa. Euro dan pound sterling masing-masing naik 0,1 persen pada perdagangan sesi Eropa. Secara mingguan, euro mencatat kenaikan sekitar 0,5 persen seiring berkurangnya tekanan dari penguatan dolar AS.
Sementara itu, dolar Australia terhadap dolar AS (AUD/USD), yang kerap dijadikan indikator selera risiko di kawasan Asia-Pasifik, naik hampir 0,3 persen. Pelemahan dolar AS juga memberi ruang bagi penguatan sejumlah mata uang Asia.
Adapun, volume transaksi di pasar valuta asing tetap relatif tipis karena libur pasar di Amerika Serikat. Di sisi lain, pelaku pasar masih berhati-hati mencermati perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Perundingan teknis yang berlangsung di Qatar dilaporkan menunjukkan "kemajuan positif" sebelum dihentikan sementara untuk prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Perkembangan tersebut membuat pergerakan aset berisiko cenderung terbatas karena investor masih menunggu kepastian hasil negosiasi. Meski dolar mengalami tekanan setelah rilis data ketenagakerjaan, sejumlah analis menilai mata uang AS masih relatif kuat.
Pandangan tersebut didukung pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang kembali menegaskan komitmen bank sentral menjaga independensi kebijakan moneter serta mempertahankan target inflasi sebesar dua persen di tengah tekanan harga yang masih tinggi di AS.