Arus Modal Deras ke Obligasi, Rupiah Menguat ke Rp17.511/USD

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Arus Modal Deras ke Obligasi, Rupiah Menguat ke Rp17.511/USD

Ade Hapsari Lestarini • 9 September 2026 17:46

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu bergerak menguat 121 poin atau 0,69 persen menjadi Rp17.511 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.632 per USD.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat di level Rp17.552 per USD dari sebelumnya Rp17.618 per USD.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah.

"Rupiah pada perdagangan hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah," ucap dia, dilansir Antara, Rabu, 9 September 2026.


Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
 

Arus modal ke pasar obligasi naik USD90,5 juta


Tercatat, arus modal yang masuk ke pasar obligasi naik USD90,5 juta karena dipengaruhi membaiknya defisit anggaran dan penerimaan pajak, spread yield yang masih lebar dibandingkan obligasi pemerintah. Kenaikan inflasi AS yang berlanjut dinilai membuat obligasi pemerintah AS secara umum kurang menarik.

Di samping itu, investor juga menanti data inflasi AS pada Kamis, 10 September 2026 terkait harga minyak yang masih bertahan di level tinggi.

Inflasi AS secara bulanan dan tahunan diperkirakan masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen dipengaruhi harga minyak. Adapun inflasi inti tahunan diprediksi berkisar 2,4 persen.

"Dengan angka-angka inflasi tersebut di atas membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen lebih tinggi dari sebelumnya 35 persen," ungkap Rully.

(Ade Hapsari Lestarini)