Rupiah. Foto: MI/Susanto.
Rupiah Turun 0,15% di Senin Pagi Jadi Rp16.984
Husen Miftahudin • 16 March 2026 10:10
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 16 Maret 2026, rupiah hingga pukul 10.00 WIB berada di level Rp16.984 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 26 poin atau setara 0,15 persen dari Rp16.958 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.929 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.960 per USD hingga Rp17.020 per USD. Pergerakan rupiah untuk minggu ini bergerak di level Rp16.850 per USD sampai Rp17.150 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Purbaya Klaim Rupiah Tahan Gejolak Global |
Harga minyak melonjak
Menurut Ibrahim, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh harga minyak yang melonjak, setelah pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup. Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
"Para pelaku pasar dan analis khawatir lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi. Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar USD100 per barel," papar Ibrahim.
Bank sentral, seperti Federal Reserve, mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar.
Selain konflik Iran, investor juga memantau data inflasi AS minggu ini. Angka indeks harga konsumen pada hari Rabu menunjukkan inflasi sebagian besar tetap stabil pada bulan Februari dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut tidak mencerminkan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga minyak karena kampanye AS-Israel di Iran.
Menurut Ibrahim, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi untuk bulan Januari, yang akan dirilis akhir pekan ini, diharapkan memberikan lebih banyak petunjuk tentang inflasi AS. "Yang terpenting, angka tersebut adalah ukuran inflasi pilihan The Fed, dan kemungkinan akan menjadi faktor dalam ekspektasi suku bunga jangka panjang," ucap dia.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Pasar pelototi beban pembayaran bunga utang
Di sisi lain, Ibrahim mengungkapkan pasar terus menyoroti beban pembayaran bunga utang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara. Estimasi berdasarkan skema defisit anggaran dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp99,8 triliun pada Februari 2026.
"Jumlah ini setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 28,8 persen jika dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu," kata dia.
Risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar menyusul kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah serta tensi panas geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara alias SBN.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, tingkat yield SBN tenor 10 tahun bertengger di level 6,52 persen, sementara yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun berada di posisi 4,09 persen. Secara akumulasi sejak awal tahun (year to date/YtD), yield SBN mengalami kenaikan sebesar 55 basis poin (bps). Kenaikan yield SBN berisiko meningkatkan beban pembayaran bunga utang di dalam APBN.
Kendati demikian, pemerintah masih optimis dengan mengelola utang, baik dari sisi portofolio maupun penerbitan tahunan (annual issuance), dengan sangat hati-hati untuk memastikan risiko tetap terjaga, termasuk dari sisi pengelolaan rasio pembayaran bunga utang (interest ratio) dan Debt Service Ratio (DSR).
"Contoh konkret, penerimaan pajak yang mampu tumbuh hingga 30,4 persen pada Februari 2026 akan berdampak langsung pada perbaikan rasio pembayaran bunga utang maupun DSR," terang Ibrahim.