Dolar AS Menguat, Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Dolar AS Menguat, Data Tenaga Kerja Picu Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Eko Nordiansyah • 5 September 2026 09:26

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Jumat, 4 September 2026, setelah laporan tenaga kerja bulan Agustus melampaui ekspektasi secara signifikan, mendorong para pedagang untuk meningkatkan perkiraan mereka mengenai kenaikan suku bunga Federal Reserve akhir bulan ini.

Namun, dolar tetap mencatatkan penurunan mingguan, dipengaruhi oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS pada hari Kamis dan reli tajam yen Jepang.

Dikutip dari Investing, Sabtu, 5 September 2026, indeks dolar AS, yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,3 persen ke level 99,18. Untuk periode mingguan, indeks ini turun 0,5 persen.

Pasar tenaga kerja AS menguat pada Agustus

Para pelaku pasar mata uang sangat fokus pada laporan nonfarm payrolls AS. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, jumlah lapangan kerja bertambah 162 ribu pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari perkiraan sebesar 55 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1 persen. Sementara itu, total nonfarm payrolls untuk Juni dan Juli secara gabungan tercatat 55 ribu lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya.

Data ini muncul di tengah sorotan ketat terhadap suku bunga dalam situasi yang kompleks bagi The Fed. Indikator inflasi pilihan bank sentral, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), terus berada di atas target jangka panjang sebesar dua persen selama 65 bulan berturut-turut. Hal ini memicu perdebatan di dalam Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai arah kebijakan moneter di masa depan.

Para pedagang meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga akhir bulan ini. Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang tangguh dan inflasi yang tetap tinggi mengindikasikan ekonomi yang mengalami overheating (terlalu panas) akibat tekanan harga; dalam situasi seperti ini, bank sentral biasanya mempertimbangkan pengetatan kebijakan. 
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Presiden Donald Trump menyoroti laporan ketenagakerjaan tersebut namun justru mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga, sembari mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan terhadap AS jika hal itu tidak dilakukan.

Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang FOMC menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada 16 September meningkat menjadi sekitar 58 persen setelah rilis data ketenagakerjaan, naik dari sebelumnya sekitar 52 persen. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi umumnya cenderung memperkuat nilai dolar.

Aksi jual obligasi pemerintah juga kembali terjadi, terutama pada tenor jangka pendek yang lebih sensitif terhadap pengetatan kebijakan dalam waktu dekat. Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun naik 4,5 basis poin menjadi 4,379 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun naik 1,8 basis poin menjadi 4,780 persen.

Yen melemah setelah lonjakan tajam

Beralih ke pasar mata uang, yen menjadi mata uang dengan kinerja paling menonjol pekan ini, meskipun sempat melemah pada Jumat. Pelemahan ini terjadi setelah lonjakan tajam sebesar 1,9 persen pada sesi sebelumnya yang membawa yen ke level tertinggi satu bulan di angka 155,30, pergerakan yang memicu spekulasi luas di pasar mengenai apakah otoritas Jepang telah melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Meski tidak ada konfirmasi resmi mengenai intervensi, yen mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 2,5 persen, yang merupakan kinerja mingguan terkuat sejak akhir Juli.

Penguatan ini didorong oleh meningkatnya spekulasi bahwa Gubernur Bank of Japan, Kazuo Ueda, dan Dewan Gubernur akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan tanggal 17–18 September serta memberikan sinyal mengenai normalisasi kebijakan lebih lanjut hingga tahun 2027.

Pejabat tinggi urusan mata uang Jepang, Atsushi Mimura, pada hari Jumat memperingatkan bahwa Tokyo tetap waspada dan terus berkomunikasi erat dengan otoritas AS, sehingga membuat para pelaku short-selling (spekulan yang bertaruh pada penurunan harga) tetap berhati-hati.

Di sisi lain, dolar Kanada melemah, dengan pasangan mata uang USD/CAD naik 0,3 persen ke level 1,3830.

Data pemerintah sebelumnya menunjukkan pasar tenaga kerja Kanada melemah tajam pada bulan Agustus, dengan jumlah lapangan kerja berkurang sebanyak 41.700 posisi, seiring memudarnya lonjakan perekrutan di awal musim panas dan meningkatnya ketidakpastian yang dihadapi dunia usaha akibat tarif baru AS. 

Para ekonom sebelumnya memperkirakan penambahan 15 ribu lapangan kerja. Angka bulan Agustus ini mencerminkan perubahan arah yang tajam dibandingkan pertumbuhan sebesar 75.100 pada bulan Juli.

Nilai tukar euro menguat 0,2 persen sepanjang minggu ini menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa pada 10 September. Pasar secara bulat memperkirakan bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.

(Eko Nordiansyah)