Kilau Harga Emas Meredup

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Kilau Harga Emas Meredup

Eko Nordiansyah • 5 September 2026 09:17

Chicago: Harga emas turun pada Jumat, 4 September 2026, karena laporan tenaga kerja AS yang sangat kuat meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve akhir bulan ini, yang juga mendorong penguatan dolar. Harga emas juga mencatat sedikit penurunan mingguan di tengah aksi jual obligasi yang terus berlanjut dan lonjakan harga minyak.

Dikutip dari Investing, Sabtu, 5 September 2026, harga emas spot turun satu persen menjadi USD4.430,61 per ons, sementara emas berjangka turun 1,4 persen menjadi USD4.477,34 per ons. Untuk periode mingguan, harga emas spot turun 0,6 persen, sedangkan emas berjangka turun 1,2 persen.

Pertumbuhan lapangan kerja AS melebihi perkiraan

Pelaku pasar mata uang sangat fokus pada laporan nonfarm payrolls AS. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, jumlah lapangan kerja bertambah 162 ribu pada Agustus, hampir tiga kali lipat dari perkiraan sebesar 55 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1 persen. Sementara itu, total nonfarm payrolls untuk bulan Juni dan Juli secara gabungan tercatat 55 ribu lebih tinggi daripada yang dilaporkan sebelumnya.

Data ini muncul di saat suku bunga sedang mendapat sorotan ketat di tengah situasi yang rumit bagi The Fed. Indikator inflasi pilihan bank sentral, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), telah bertahan di atas target jangka panjang sebesar dua persen selama 65 bulan berturut-turut, yang memicu perdebatan di dalam Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai arah kebijakan moneter di masa depan.

Para pedagang meningkatkan spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada akhir bulan ini, karena kombinasi antara pasar tenaga kerja yang tangguh dan inflasi yang tetap tinggi mengindikasikan ekonomi yang mengalami overheating (panas berlebih) akibat tekanan harga; dalam situasi seperti ini, bank sentral biasanya mempertimbangkan pengetatan kebijakan. 
(Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti)

Presiden Donald Trump menyoroti laporan ketenagakerjaan tersebut namun justru mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga, sembari mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan terhadap AS jika hal itu tidak dilakukan.

Berdasarkan alat CME FedWatch, peluang FOMC menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada tanggal 16 September meningkat menjadi sekitar 58 perrsen setelah rilis data ketenagakerjaan, naik dari sebelumnya sekitar 52 persen. 

Lingkungan suku bunga tinggi umumnya cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets), seperti emas. Suku bunga tinggi juga cenderung memperkuat nilai dolar, yang pada gilirannya dapat membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli asing.

Aksi jual obligasi pemerintah juga kembali terjadi, terutama pada tenor jangka pendek yang lebih sensitif terhadap rencana pengetatan kebijakan dalam waktu dekat. Imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun naik 4,5 basis poin menjadi 4,379 persen, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun naik 1,8 basis poin menjadi 4,780 persen.

Harga minyak melonjak sepanjang pekan

Beralih ke Timur Tengah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis malam menyatakan bahwa Uni Eropa telah secara resmi bergabung dalam operasi yang dipimpin oleh Washington untuk menekan Iran secara ekonomi.

Di tengah langkah AS yang meningkatkan perang ekonominya, pekan ini juga diwarnai oleh kembalinya aksi militer antara Washington dan Teheran untuk pertama kalinya sejak bulan Juli. Kedua belah pihak saling melancarkan serangan balasan, meskipun Trump mengatakan kepada wartawan pekan ini bahwa eskalasi aksi kinetik terbaru tersebut tidak akan berlangsung terlalu lama.

Dalam situasi tersebut, harga minyak melonjak pekan ini; kontrak berjangka minyak mentah Brent naik tajam sebesar 8,8 persen. Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak 9,3 eprsen.

(Eko Nordiansyah)