Presiden AS Donald Trump. Foto: Xinhua/Hu Yousong.
Trump Desak The Fed Turunkan Suku Bunga
Eko Nordiansyah • 5 September 2026 08:55
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga, seraya mengancam akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang mencatat surplus terhadap AS jika hal itu tidak dilakukan. Langkah ini menandai upaya paling vokal dari pemimpin AS tersebut dalam menekan bank sentral sejak Kevin Warsh menjabat sebagai ketua The Fed.
Komentar tersebut muncul setelah data nonfarm payrolls Agustus yang sangat kuat, yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS sebesar 162 ribu, hampir tiga kali lipat dari perkiraan sebesar 55 ribu. Tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1 persen, sementara angka payroll untuk bulan Juni dan Juli direvisi naik dengan total gabungan sebesar 55 ribu.
"Turunkan suku bunga karena AS memiliki profil kredit yang jauh lebih kuat dibandingkan beberapa waktu lalu! Negara yang kuat berarti suku bunga yang lebih rendah-profil kreditnya lebib baik. Sangat sederhana!" tulis Trump di platform Truth Social miliknya, sembari menyoroti laporan ketenagakerjaan tersebut dikutip dari Investing, Sabtu, 5 September 2026.
"Kita seharusnya memiliki suku bunga terendah dibandingkan negara mana pun di dunia, seperti 'masa lalu'. Tanpa persetujuan Amerika Serikat untuk membiarkan mereka menikmati surplus besar—yang bisa kita hentikan seketika—mereka tidak akan lagi dianggap sebagai ELIT secara finansial!" ujarnya.
"Turunkan suku bunga atau saya akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang menjadi sumber defisit kita. Ini lebih baik daripada tarif! Dewan The Fed, dengan pemimpin barunya yang hebat, harus bertindak cerdas—jadilah patriot untuk sekali ini. Suku bunga tinggi menempatkan AS dalam posisi yang sangat tidak adil, dan saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi!" tambah Trump.
.jpg)
(Ilustrasi Gedung The Fed. Foto: Xinhua/Liu Jie)
Sinyal kenaikan suku bunga The Fed
Pernyataan presiden AS ini muncul di tengah meningkatnya ekspektasi investor Wall Street akan kenaikan suku bunga The Fed akhir bulan ini pasca-rilis data ketenagakerjaan.Kombinasi antara pasar tenaga kerja yang tangguh dan inflasi yang tetap tinggi mengindikasikan ekonomi yang mengalami overheating (panas berlebih) akibat tekanan harga; dalam skenario seperti itu, bank sentral biasanya mempertimbangkan pengetatan kebijakan.
Dengan ukuran inflasi pilihan The Fed yang terus berada di atas target jangka panjang dua persen selama 65 bulan berturut-turut, muncul perdebatan di dalam Federal Open Market Committee (FOMC) mengenai arah kebijakan moneter di masa depan. Bahkan, Ketua The Fed Kevin Warsh menunjukkan sikap yang sangat hawkish dalam pidato utamanya di konferensi Jackson Hole pekan lalu.
Pernyataan Trump yang mendesak penurunan suku bunga mengingatkan kembali pada tekanan serupa yang pernah dilancarkan presiden AS tersebut terhadap mantan Ketua The Fed, Jerome Powell, selama masa jabatannya.
Trump kerap mengkritik Powell karena tidak melonggarkan kebijakan yang memicu kekhawatiran mengenai independensi bank sentral. Sejak Warsh mengambil alih posisi tersebut pada bulan Mei, Trump tampak tidak terlalu vokal dalam menuntut pemangkasan suku bunga.
Sementara itu, AS telah lama mengalami defisit perdagangan secara keseluruhan dan mencatat kondisi serupa dengan sekitar separuh dari mitra dagang individunya.
Data pemerintah yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa defisit perdagangan barang dan jasa AS mencapai USD88,6 miliar pada Juli, meningkat USD17,4 miliar dibandingkan Juni. Nilai impor pada bulan Juli tercatat sebesar USD399,3 miliar, melampaui nilai ekspor yang sebesar USD310,7 miliar.