Jelang Akhir Pekan, Rupiah Pagi Ini di Level Rp18.064/USD

Rupiah dan dolar AS. Foto: MI/Usman Iskandar.

Jelang Akhir Pekan, Rupiah Pagi Ini di Level Rp18.064/USD

Husen Miftahudin • 16 October 2026 09:52

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.

Mengutip data Bloomberg, Jumat, 16 Oktober 2026, rupiah hingga pukul 09.36 WIB berada di level Rp18.064 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun sebanyak 126 poin atau setara 0,70 persen dari Rp17.938 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.943 per USD. Analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.930 per USD hingga Rp17.990 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.

 

 

MSCI usulkan turunkan pasar modal Indonesia


Sebelumnya, Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka konsultasi dengan pelaku pasar mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri).

Mengutip pengumuman MSCI yang diterima di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, keputusan final mengenai usulan reklasifikasi tersebut akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027. Selama masa konsultasi, MSCI juga dapat menyampaikan pembaruan sementara mengenai masukan yang diterima dari pelaku pasar.

MSCI menyatakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemampuan investasi di pasar modal Indonesia meningkat signifikan. Persoalan yang disoroti mencakup ketidakjelasan struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.

MSCI mencatat otoritas pasar modal Indonesia telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi. Kebijakan tersebut mencakup peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham dengan kepemilikan di atas satu persen, pengungkapan klasifikasi investor yang lebih terperinci, serta pelaporan Konsentrasi Kepemilikan Saham Tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Selain itu, otoritas pasar modal Indonesia telah menyusun peta jalan untuk menerapkan persyaratan minimum saham publik atau free float sebesar 15 persen. Meski demikian, MSCI menilai implementasi reformasi perlu dilakukan secara konsisten. Lembaga penyedia indeks global tersebut juga menekankan pentingnya bukti berkelanjutan mengenai dampak material dari berbagai langkah perbaikan yang telah diumumkan.

MSCI menyebut pelaku pasar masih melaporkan belum adanya kemajuan yang memadai dan konsisten di seluruh pasar saham Indonesia. Kekhawatiran juga mencakup dugaan praktik perdagangan terkoordinasi serta belum terlihatnya bukti penegakan aturan yang dinilai berarti.



(Ilustrasi. Foto: dok MI)
 

Indonesia diusulkan beralih ke Standalone Market


MSCI sebelumnya, pada Juni 2026, menyampaikan akan mempertimbangkan konsultasi reklasifikasi apabila kemajuan yang memadai belum terlihat dalam November 2026 Index Review.

Berdasarkan masukan yang diterima, MSCI kini menilai klasifikasi Indonesia sebagai Emerging Market perlu ditinjau kembali. Karena itu, lembaga tersebut membuka konsultasi untuk mengusulkan perubahan status Indonesia menjadi Standalone Market.

MSCI juga menyatakan perubahan klasifikasi menjadi Frontier Market atau pasar perintis dinilai belum cukup mencerminkan tingkat persoalan yang disampaikan pelaku pasar.

Melalui proses konsultasi ini, MSCI ingin mengidentifikasi bukti perbaikan material dalam tata kelola pasar yang dapat menjadi dasar untuk mempertimbangkan kembali usulan reklasifikasi.

(Husen Miftahudin)