Akademisi dan Aktivis Lingkungan Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Sampah, Air, dan Iklim

Forum Akademisi dan Aktivis Lingkungan (FOKAL) menggelar seminar bertema Waste, Water, and Climate: Where Knowledge Meets Collective Action di Aula Timur ITB, Rabu, 8 April 2026. Foto: Dok/Istimewa

Akademisi dan Aktivis Lingkungan Dorong Kolaborasi Atasi Krisis Sampah, Air, dan Iklim

Misbahol Munir • 9 April 2026 21:37

Bandung: Indonesia saat ini menghadapi tiga krisis lingkungan yang saling berkaitan, yakni persoalan sampah, pencemaran air, dan perubahan iklim. Ketiga isu tersebut tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memengaruhi kesehatan masyarakat serta kehidupan sehari-hari.

Kesadaran masyarakat terhadap persoalan lingkungan dinilai masih perlu ditingkatkan. Hal ini menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Forum Akademisi dan Aktivis Lingkungan (FOKAL) bertema Waste, Water, and Climate: Where Knowledge Meets Collective Action di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu, 8 April 2026.

Influencer sekaligus pegiat lingkungan dari komunitas Pandawara mengungkap pengalaman saat menjalankan aksi pembersihan lingkungan.

“Sebelum kami membersihkan saluran air, kami minta izin dulu kepada Pak RW setempat. Setelah selesai, kami malah ditanya mana uang kopi. Padahal harusnya kami yang membersihkan yang dapat kopi,” kelakar anggota Pandawara Rifki Sa’dulah.
 


Ia menegaskan teknologi tidak akan efektif tanpa kesadaran kolektif masyarakat. “Secanggih apa pun teknologi, tanpa kesadaran yang dibangun di masyarakat, pemerintah, komunitas, dan diri masing-masing, maka akan percuma,” ujar Rifki.

Selain rendahnya kesadaran, stigma terhadap pekerjaan yang berkaitan dengan pengelolaan sampah juga dinilai masih kuat di masyarakat.

“Masyarakat masih menganggap kegiatan membersihkan lingkungan atau mengurus sampah sebagai sesuatu yang hina dan kotor. Stigma ini perlu diubah agar masyarakat melihat menjaga lingkungan sebagai sesuatu yang keren,” kata anggota Pandawara lainnya, Mochamad Agung Permana.


Ketua IATL ITB, Chitra Retna Septyandrica, saat membuka seminar FOKAL bertema Waste, Water, and Climate: Where Knowledge Meets Collective Action di Aula Timur ITB, Rabu, 8 April 2026. Foto: Dok/Istimewa

Dari sisi pemerintah, Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat menilai kolaborasi menjadi kunci dalam mengatasi persoalan lingkungan.

“Tujuan harus jelas, platformnya harus sama, dan yang paling penting ada kepercayaan. Kolaborasi penting, namun perlu ada tiga unsur utama tersebut,” ujar Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat Helmi Gunawan.

Sementara dari perspektif akademisi, Wakil Rektor ITB sekaligus dosen Teknik Lingkungan Prof Agus Jatnika Effendi menekankan pentingnya menyesuaikan teknologi dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

“Dalam mencegah maupun mengelola bencana, ada berbagai teknologi sederhana yang bisa diterapkan, seperti membrane filter dalam pengelolaan banjir. Teknologi ini memang masih memiliki kekurangan, tetapi masyarakat membutuhkan akses air bersih secara cepat,” jelas Agus.
 
Pandangan serupa disampaikan Prof Emenda Sembiring terkait rencana pembangunan insinerator besar sebagai solusi pengelolaan sampah di Indonesia.

“Saat ini saya cenderung setuju dengan rencana tersebut. Walaupun memiliki risiko, Indonesia membutuhkan solusi cepat untuk menangani volume sampah yang sudah sangat besar, sambil tetap mencari solusi jangka panjang,” ujar Emenda.

Forum FOKAL juga menampilkan tiga inovator muda yang mempresentasikan gagasan solusi lingkungan. Mereka adalah Carissa Eukarin dengan proyek pemanfaatan sampah sachet menjadi papan melalui Repair Project, Hanna Maria Scriftura Sinaga dengan inovasi dekarbonasi untuk sektor bisnis melalui Climate Innovation, serta Firzainy Jiddan Mustofa dengan platform SERAP (Sistem Evaluasi Resapan Air Pintar).

Ketua Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITB Chitra Retna Septyandrica berharap FOKAL dapat menjadi ruang kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan solusi konkret atas krisis lingkungan.

“Dengan menyampaikan gagasan dan menjalin kolaborasi lintas sektor, keilmuan, serta profesi, kita semua bisa mengambil peran dalam menyelamatkan lingkungan,” ujar Chitra.

Mengusung pendekatan transdisipliner, FOKAL berupaya mengintegrasikan riset ilmiah, kebijakan publik, inovasi industri, gerakan komunitas, serta pengetahuan lokal. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong perubahan yang berkelanjutan.

Forum ini juga menegaskan bahwa hambatan terbesar dalam penanganan krisis lingkungan bukan terletak pada kurangnya solusi, melainkan berbagai inisiatif yang masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung secara strategis.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Misbahol Munir)