Podium Media Indonesia: Rupiah Vs IHSG

Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI

Podium Media Indonesia: Rupiah Vs IHSG

Abdul Kohar • 23 January 2026 06:52

ADA yang ganjil di pasar keuangan kita. Rupiah terkapar, bahkan menyentuh di kisaran 17 ribu per US$, level terendah sepanjang sejarah. Namun, di saat yang sama, indeks harga saham gabungan (IHSG) justru terus menanjak, mencapai 9.000-an, angka tertinggi juga sepanjang sejarah. Dua indikator utama ekonomi itu bergerak berlawanan arah. Publik pun bertanya, ada apa?

Pertanyaan itu pula yang, menariknya, 'dilemparkan' oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada Bank Indonesia. Logikanya sederhana, bahkan nyaris menjadi pakem di buku teks ekonomi. Jika IHSG naik, artinya ada aliran investasi, termasuk dari asing. Jika investor asing masuk, mereka membawa dolar AS. Jika dolar masuk, suplai dolar meningkat. Jika suplai dolar meningkat, rupiah seharusnya menguat.

Namun, fakta berkata lain. Dolar AS justru semakin perkasa, rupiah makin tertekan. Di titik itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya lebih jujur, apakah logika lama itu masih sepenuhnya relevan? Ada lima hal yang bisa dijadikan pisau analisis demi membedah dan menjawab mengapa terjadi diskoneksi antara rupiah dan IHSG.
 


Pertama, kenaikan IHSG hari-hari ini tidak otomatis mencerminkan derasnya dana asing. Struktur pasar saham Indonesia sudah berubah. Porsi investor domestik, terutama ritel dan institusi lokal, kian dominan. Bahkan mencapai sekitar 60%. Lonjakan IHSG bisa saja lebih banyak didorong oleh likuiditas domestik, dana pensiun, asuransi, atau bahkan sentimen sesaat, bukan arus modal asing jangka panjang. Artinya, IHSG naik tidak selalu berarti dolar masuk deras.

Kedua, sekalipun ada dana asing yang masuk ke bursa, sifatnya makin jangka pendek dan oportunistis. Investor global kini bermain cepat, yakni masuk saat ada momentum, keluar ketika risiko global meningkat. Dana yang masuk pagi hari bisa saja keluar sore hari melalui instrumen lain. Dalam konteks itu, pasar saham tidak lagi menjadi 'penampung dolar' yang stabil bagi rupiah.

Ketiga, tekanan terhadap rupiah hari ini lebih banyak bersumber dari faktor global ketimbang domestik. Dolar AS sedang berada di puncak kekuatannya. Suku bunga The Federal Reserve yang tinggi dan bertahan lama membuat aset berdenominasi dolar menjadi sangat menarik. Ditambah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, dolar kembali berfungsi sebagai safe haven. Dalam situasi seperti itu, mata uang negara berkembang hampir selalu menjadi korban.

Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI

Keempat, permintaan dolar di dalam negeri meningkat terlepas dari kinerja pasar saham. Kebutuhan impor energi, pembayaran utang luar negeri, keperluan hedging atau lindung nilai, hingga repatriasi dividen oleh korporasi asing terus menyedot dolar. Jadi, meskipun ada dolar yang masuk lewat pasar modal, arus keluar dolar dari sektor riil dan keuangan bisa jauh lebih besar.

Kelima, pasar valuta asing bereaksi bukan hanya pada arus kas, melainkan juga pada persepsi dan ekspektasi. Ketika pelaku pasar melihat defisit transaksi berjalan berpotensi melebar, cadangan devisa tertekan, atau koordinasi kebijakan fiskal dan moneter kurang solid (bahkan mungkin saling mengintervensi), mereka akan bersikap defensif. Rupiah pun dilepas, dolar diburu.

Lalu, apa yang salah? Yang keliru bukan semata-mata kebijakan, melainkan cara kita membaca indikator. Terlalu lama kita mengasumsikan bahwa IHSG ialah cermin paling jujur dari kepercayaan asing terhadap ekonomi nasional. Padahal, pasar saham kini lebih mencerminkan optimisme segelintir sektor dan likuiditas jangka pendek, bukan kekuatan fundamen nilai tukar.

Di sisi lain, melempar pertanyaan ke Bank Indonesia saja juga tidak cukup. Stabilitas rupiah bukan hanya urusan moneter. Ia merupakan hasil orkestrasi antara kebijakan fiskal, moneter, sektor riil, dan komunikasi kebijakan. Ketika pasar melihat narasi yang terfragmentasi, misalnya satu bicara IHSG, satu bicara inflasi, satu lagi bicara nilai tukar, yang muncul ialah ketidakpastian.

Rupiah hari ini sedang memberikan sinyal. Bukan semata-mata tentang dolar yang kuat, melainkan juga tentang rapuhnya kepercayaan bahwa aliran devisa kita cukup dan berkelanjutan. IHSG yang naik memang kabar baik, tetapi ia tidak bisa dijadikan satu-satunya pembela rupiah.

Jika kita terus bersandar pada logika lama bahwa IHSG naik berarti rupiah aman, kita sedang menutup mata terhadap perubahan besar di pasar global. Sebagian besar perubahan itu sudah tersedia informasinya, trennya, datanya, hari ini. Tinggal mau menggunakan atau tidak.

Seperti kata Robert Lucas, penggagas teori ekspektasi rasional, yang menyebutkan bahwa pelaku ekonomi membentuk harapan tentang masa depan secara masuk akal, berbasis informasi yang tersedia hari ini, dan memahami cara kerja kebijakan ekonomi, bukan sekadar menebak atau mengulang kesalahan masa lalu. Kalau kita tidak mau melihat informasi hari ini, berarti kita terjebak ke 'langgam' masa lalu.

Jadi, bisa saja rupiah terpuruk bukan karena pasar saham salah arah, melainkan karena kita belum sepenuhnya membaca arah zaman dan menggunakan informasi hari ini untuk memprediksi apa yang terjadi ke depan. Mungkin saja.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)