Harga Emas Masih Tertekan, Begini Proyeksinya untuk Hari Ini

Emas batangan. Foto: en.trend.az

Harga Emas Masih Tertekan, Begini Proyeksinya untuk Hari Ini

Husen Miftahudin • 29 September 2026 10:39

Jakarta: Harga emas atau XAU/USD masih berada dalam tekanan setelah mengalami penurunan tajam pada perdagangan awal pekan. Spot gold sempat turun hingga sekitar USD4.111 per troy ons, seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Harga emas spot sempat merosot hingga empat persen pada Senin, 28 September 2026, mencapai level terendah sejak awal Agustus. Pada saat yang sama, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juni 2007. Meski masih menghadapi tekanan fundamental, analisis Dupoin Futures melihat adanya peluang koreksi naik dalam jangka pendek berdasarkan pergerakan teknikal.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures pada grafik satu jam atau H1, harga emas berpotensi memasuki fase koreksi setelah mengalami penurunan tajam pada Senin. Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan potensi rebound tersebut terlihat dari terbentuknya pola Bullish Engulfing di sekitar level support USD4.111.

Menurut dia, level tersebut menjadi area penting bagi pergerakan emas dalam jangka pendek. Selama support mampu bertahan, XAU/USD berpotensi bergerak menuju area resistance USD4.160 hingga USD4.202.

Pola Bullish Engulfing pada grafik H1 menunjukkan munculnya tekanan beli setelah harga mengalami penurunan tajam. Namun, pola tersebut belum serta-merta mengubah tren pelemahan yang terjadi sebelumnya.

"Pergerakan harga di sekitar area resistance USD4.160-USD4.202 menjadi salah satu titik yang dapat dicermati untuk melihat keberlanjutan koreksi," ungkap Geraldo dalam analisis hariannya, Selasa, 29 September 2026.
 

 

Kenaikan imbal hasil obligasi AS tekan harga emas


Dari sisi fundamental, emas masih menghadapi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Adapun imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2007 pada perdagangan Senin. Kenaikan imbal hasil tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve berikutnya.

Kenaikan imbal hasil dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga. Ketika imbal hasil aset berbasis obligasi meningkat, biaya peluang untuk memegang emas juga ikut meningkat.

Pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Ekspektasi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap harga emas.

Selain imbal hasil Treasury, penguatan dolar AS turut menjadi faktor yang menekan emas. Emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain ketika nilai dolar menguat.

Harga minyak yang masih tinggi juga menjadi perhatian pasar. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan pada akhirnya memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Kenaikan harga minyak dan kebuntuan dalam pembicaraan AS-Iran menjadi salah satu faktor yang membayangi pasar pada perdagangan Senin.

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik masih dapat menjadi faktor pendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, dalam kondisi pasar saat ini, kenaikan imbal hasil Treasury dan penguatan dolar menjadi tekanan yang perlu dicermati.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Berpeluang rebound dalam jangka pendek


Berdasarkan analisis teknikal Dupoin Futures, XAU/USD memiliki peluang mengalami rebound dalam jangka pendek jika level support USD4.111 mampu bertahan.

Target koreksi berikutnya berada di area USD4.160 hingga USD4.202. Namun, pergerakan tersebut masih perlu dilihat sebagai koreksi terhadap tren pelemahan sebelumnya, bukan konfirmasi perubahan tren secara keseluruhan.

"Pelaku pasar dapat mencermati respons harga di sekitar support USD4.111 dan resistance USD4.160-USD4.202," ungkap Geraldo.

Selain itu, lanjut dia, pergerakan dolar AS, imbal hasil Treasury, harga minyak, serta perkembangan hubungan AS-Iran dapat menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan emas.

(Husen Miftahudin)