Ilustrasi. Foto: dok MI.
Rupiah Ditutup Turun 55 Poin ke Level Rp17.035/USD
Husen Miftahudin • 6 April 2026 16:16
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 6 April 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.035 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 55 poin atau setara 0,32 persen dari posisi Rp16.980 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 55 poin, sebelumnya sempat melemah 70 poin di level Rp17.035 per USD dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980 per USD," kata analis pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam analisis hariannya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp17.035 per USD. Rupiah melemah 25 poin atau setara 0,15 persen dari Rp17.010 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.037 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 22 poin dari perdagangan sebelumnya di level Rp17.015 per USD.
| Baca juga: Rupiah Pagi Ini Turun 0,25% ke Rp17.023/USD |
Trump lagi-lagi ancam Iran buka Selat Hormuz
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen investor yang fokus pada tenggat waktu Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Trump memperingatkan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz paling lambat Selasa (7/4), untuk lalu lintas kapal tanker agar dapat kembali beroperasi melalui jalur air strategis tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Presiden Iran Seyyed Mohammad Mehdi Tabatabaei mengatakan transit melalui selat tersebut hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk mengkompensasi Iran atas kerusakan terkait perang.
Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu.
"Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat Hormuz tetap diblokir," terang Ibrahim.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Defisit APBN capai 0,93%
Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sampai Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB. Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68 persen terhadap PDB.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit anggaran berasal dari belanja total Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sekitar Rp620,3 triliun. Sementara itu, penerimaan negara hanya terealisasi Rp574,9 triliun, dengan mayoritas disumbang oleh pajak yakni Rp462,7 triliun atau tumbuh 14,3 persen dari Maret tahun lalu yakni Rp404,7 triliun.
Sejalan dengan itu, pembiayaan anggaran negara sudah terealisasi Rp257,4 triliun atau tumbuh 1,9 persen (yoy). Dengan kondisi tersebut, keseimbangan primer mengalami defisit Rp95,8 triliun. Keseimbangan primer merupakan kondisi di mana total pendapatan negara dikurangi belanja negara, di luar pembayaran bunga utang.
Apabila total pendapatan negara lebih besar dibandingkan belanja negara di luar pembayaran bunga utang, maka keseimbangan primer akan positif. Namun, bila keseimbangan negatif maka total pendapatan negara lebih kecil bila dibanding belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Keseimbangan primer surplus berarti utang lama tak perlu dibayar dengan penarikan utang baru.
Melihat berbagai perkembangan tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan Selasa besok akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.030 per USD hingga Rp17.080 per USD," jelas Ibrahim.