Rupiah. Foto: dok MI.
Rupiah Pagi Ini Turun 0,25% ke Rp17.023/USD
Husen Miftahudin • 6 April 2026 10:05
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini mengalami penurunan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 6 April 2026, rupiah hingga pukul 09.57 WIB berada di level Rp17.023 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 43 poin atau setara 0,25 persen dari Rp16.980 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.010 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.
"Untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.000 per USD hingga Rp17.070 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Dolar AS Stabil di Tengah Kekhawatiran Meningkatnya Konflik Timteng |
AS akan terus serang Iran
Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump dimana AS akan terus menyerang Iran, termasuk target energi dan minyak selama beberapa minggu ke depan, dan tidak memberikan komitmen pada jangka waktu spesifik untuk mengakhiri perang.
Trump mengatakan bahwa militer AS hampir menyelesaikan tujuannya dalam perang melawan Iran, dan konflik akan segera berakhir, tetapi tidak memberikan jangka waktu spesifik.
"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan. Kita akan membawa mereka kembali ke 'Zaman Batu' tempat mereka seharusnya berada," ucap Trump.
Pernyataan tersebut menandai pembalikan dari komentar sebelumnya minggu ini, ketika Trump mengatakan AS dapat meninggalkan Iran dalam jangka waktu yang sama, bahkan tanpa perjanjian formal.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Defisit APBN diperkirakan melebar
Di sisi lain, pemerintah memperkirakan defisit APBN melebar dari target seiring dengan pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu perang Timur Tengah. Setiap kenaikan harga minyak USD1 per barel akan menambah Rp6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp689,1 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB. Kendati yakin tetap berada di bawah batas tiga persen.
"Defisit APBN bisa melebar ke 2,9 persen terhadap PDB. Khususnya, apabila harga minyak berada di level USD100 secara konsisten sepanjang tahun," jelas Ibrahim.
Namun, pemerintah masih memiliki ruang fiskal. Salah satu alasannya karena harga minyak dunia pun masih berfluktuasi. Pemerintah menargetkan defisit APBN 2026 sebesar 2,68 persen terhadap PDB salah satunya dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) di level USD70 per barel.
"Pelebaran defisit ini tidak lepas dari bengkaknya belanja subsidi. Apalagi, APBN akan tetap menjadi peredam kejut (shock absorber) kenaikan harga minyak usai pemerintah tak menaikkan harga BBM, sehingga anggaran subsidi energi berpotensi bengkak hingga sebesar Rp100 triliun untuk meredam kenaikan harga minyak," papar dia.
Oleh karena itu, pemerintah akan terus melakukan penghematan guna mengantisipasi harga minyak terus bertengger di USD100 per barel sepanjang tahun. Beberapa cara yang dilakukan yakni penghematan belanja kementerian/lembaga hingga tiga tahap, sampai dengan pemanfaatan saldo anggaran lebih (SAL) guna menambal defisit.