Ketua The Fed Jerome Powell. Foto: Pintu.co.id
Redam Gejolak Inflasi Imbas Perang AS-Iran, Fed Ogah Ubah Suku Bunga
Husen Miftahudin • 19 March 2026 07:11
Washington: Bank Sentral AS (Federal Reserve) memutuskan untuk kembali mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal di angka 3,50 persen sampai 3,75 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar.
"Indikator yang tersedia menunjukkan aktivitas ekonomi telah berkembang dengan kecepatan yang solid. Penambahan lapangan kerja tetap rendah, dan tingkat pengangguran hampir tidak berubah dalam beberapa bulan terakhir. Inflasi tetap agak tinggi," kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Xinhua, Kamis, 19 Maret 2026.
"Meskipun demikian, ketidakpastian tentang prospek ekonomi tetap tinggi. Implikasi perkembangan di Timur Tengah terhadap perekonomian AS masih belum pasti. Komite memperhatikan risiko bagi kedua belah pihak terkait mandat ganda yang diembannya," sambung pernyataan tersebut.
Untuk mendukung tujuannya, Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga dana federal pada 3,50 persen hingga 3,75 persen. "Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga dana federal, Komite akan dengan cermat menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko."
Dalam pernyataan tersebut, FOMC menegaskan kembali komitmen kuatnya untuk mendukung lapangan kerja maksimal dan mengembalikan inflasi ke target dua persen. Dari 12 anggota FOMC, 11 memilih untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah.
| Baca juga: Wall Street Lanjutkan Pemulihan Minggu Ini |
Khawatir konflik Timur Tengah kerek inflasi
Dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebut, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah diperkirakan akan meningkatkan inflasi dalam jangka pendek. "Dalam jangka pendek, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong inflasi secara keseluruhan," jelas dia.
Powell mengakui masih terlalu dini untuk mengetahui cakupan dan durasi potensi dampak konflik terhadap perekonomian. Meskipun demikian, ia menolak menggunakan kata "stagflasi" untuk menggambarkan perekonomian AS saat ini. "Saya akan menggunakan istilah stagflasi hanya untuk situasi yang jauh lebih serius," tegas dia.
The Fed memperkirakan inflasi akan mereda tahun ini, tetapi kemajuannya tidak akan sebesar yang diharapkan Fed. Soal suku bunga ke depan, bank sentral AS itu memperkirakan dua kali lagi penurunan suku bunga tahun ini.
Powell mengatakan hal itu dapat berubah jika inflasi tetap tinggi, dan menegaskan kembali kebijakan moneter Fed tidak mengikuti jalur yang tetap. "Kami akan membuat keputusan berdasarkan setiap pertemuan," urai dia.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Wall Street langsung ambruk
Menyusul keputusan The Fed mempertahankan suku bunga, harga saham AS di Wall Street langsung merosot ke level terendah, indeks dolar AS naik, dan harga emas terus merosot di bawah USD4.900 per ons.
Dengan revisi perkiraan inflasi menjadi 2,7 persen dari 2,5 persen dalam Proyeksi Ekonomi, keputusan Fed untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah sudah diperkirakan, kata Art Hogan, kepala ahli strategi pasar di B. Riley Wealth Management.
Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank juga menyampaikan dampak perang terhadap pasar energi telah meningkatkan ekspektasi inflasi pada saat bank sentral sudah berhati-hati dalam melakukan pelonggaran kebijakan.
"Lonjakan harga minyak dan produk olahan telah mengurangi kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat dan, dalam beberapa kasus, mendorong penetapan harga pasar ke arah prospek suku bunga 'lebih tinggi untuk jangka waktu lebih lama'," jelas dia menambahkan.
FOMC mengadakan delapan pertemuan per tahun untuk membahas kebijakan moneter dan suku bunga dana federal, tetapi juga dapat mengadakan pertemuan yang tidak terjadwal jika diperlukan untuk meninjau perkembangan ekonomi dan keuangan.
Pada Senin lalu, Presiden AS Donald Trump mendesak Powell untuk mengadakan pertemuan khusus dan menurunkan suku bunga segera, tanpa menunggu pertemuan berikutnya.