Dolar AS. Foto: Marketplace.org
Dolar AS Mulai 'Ciut', Tapi Sukses Cetak Kinerja Bulanan Terbaik
Husen Miftahudin • 1 April 2026 09:53
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) sedikit melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Meski demikian, mata uang tersebut berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025 di tengah statusnya sebagai aset safe haven pilihan selama konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.
Perang AS-Israel di Iran telah berlangsung lebih dari sebulan dan menyebabkan lonjakan harga minyak, memicu kekhawatiran inflasi di seluruh dunia dan kekhawatiran akan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Mengutip Investing.com, indeks dolar AS yang melacak nilai dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, turun 0,6 persen menjadi 99,96. Indeks ini diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 2,4 persen di sepanjang Maret.
Menukil Xinhua, pada penutupan perdagangan di New York, euro naik menjadi USD1,1523 dari USD1,1457 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3189 dari USD1,3186 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli seharga 158,95 yen Jepang, lebih rendah dari 159,58 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS menguat menjadi 0,8008 franc Swiss dari 0,8 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga bertambah menjadi 1,3937 dolar Kanada dari 1,3926 dolar Kanada. Dolar AS turun menjadi 9,4895 kronor Swedia dari 9,5556 kronor Swedia.
| Baca juga: Rupiah Menguat 40 Poin ke Rp17.001 Pagi Ini |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Dolar melemah imbas trader jejali pasar saham
Para pelaku pasar berbondong-bondong membeli saham berisiko pada Selasa karena harapan akan deeskalasi Iran yang kembali muncul.
Sentimen membaik setelah adanya laporan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran dan komentar dari Presiden Iran yang mengindikasikan negara tersebut siap mengakhiri perang jika jaminan keamanan diberikan.
Laporan WSJ mengatakan Trump telah memberitahu para ajudannya bahwa dia terbuka untuk menarik diri dari perang bahkan jika Selat Hormuz yang penting tetap tertutup, karena misi untuk membuka kembali jalur air vital tersebut akan memperpanjang jangka waktu konflik melebihi target AS yaitu empat hingga enam minggu.
Kemudian, televisi pemerintah Iran mengatakan bahwa negara itu siap mengakhiri perang jika diberi jaminan terhadap serangan lebih lanjut, mengutip pernyataan presiden Masoud Pezeshkian.