Rupiah Menguat 40 Poin ke Rp17.001 Pagi Ini

Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.

Rupiah Menguat 40 Poin ke Rp17.001 Pagi Ini

Husen Miftahudin • 1 April 2026 09:45

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali menguat.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 1 April 2026, rupiah hingga pukul 09.35 WIB berada di level Rp17.001 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik sebanyak 40 poin atau setara 0,23 persen dari Rp17.041 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.994 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.040 per USD hingga Rp17.070 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Hari Ini Turun, Ini Penyebab Utamanya
 

Selat Hormuz masih tertutup


Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair. Kondisi ini telah mendorong harga Brent berjangka naik 59 persen sepanjang Maret, kenaikan bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara WTI naik 58 persen bulan ini, yang tertinggi sejak Mei 2020.

Menyoroti ancaman terhadap pasokan energi melalui laut dari perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, Kuwait Petroleum Corp mengatakan kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, yang mampu membawa hingga dua juta barel, dihantam oleh serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai. Para pejabat juga memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut.

Pada Sabtu, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal, menimbulkan kekhawatiran baru tentang kemungkinan gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden dan rute utama bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Presiden AS Donald Trump memperingatkan AS akan 'menghancurkan' pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai “tidak realistis” dan serangan rudal baru-baru ini terhadap Israel.

"Namun demikian, Gedung Putih mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan berjalan dengan baik, menambahkan bahwa apa yang dikatakan Teheran secara publik berbeda dengan apa yang mereka sampaikan kepada pejabat AS secara pribadi," terang Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Pertumbuhan ekonomi terancam melambat


Di sisi lain, para eekonom memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan berada di kisaran 5,1 persen sampai 5,2 persen. Pendorong utamanya yakni konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

"Namun terdapat hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi dan net-ekspor, penyebabnya memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar," papar Ibrahim.

Faktor pemicu pertumbuhan kuartal pertama terutama datang dari dorongan musiman yang sangat kuat seperti momentum Ramadan, Idulfitri, tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial, diskon transportasi, dan pergerakan mudik mendorong belanja rumah tangga, jasa transportasi, perdagangan, makanan minuman, hingga kegiatan ekonomi di daerah. 

Di sisi lain, keyakinan konsumen pada Februari 2026 masih tinggi di level 125,2, penjualan eceran menguat, dan PMI manufaktur berada di 53,8 yang menunjukkan dunia usaha masih bergerak. Tak hanya itu, belanja negara juga tumbuh sangat cepat pada awal tahun, sehingga dorongan dari sisi permintaan dan sisi fiskal datang bersamaan.

"Dalam kaitan itu, pola pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi itu memang menggembirakan untuk jangka pendek, tetapi belum cukup sehat untuk jangka panjang," ungkap dia.

Ibrahim mengakui konsumsi memang menjadi penyangga utama ekonomi Indonesia dan menyumbang sekitar 53 persen sampai 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga saat dunia global melemah, permintaan dalam negeri bisa menahan perlambatan.

Di lain sisi, sinyal baik tecermin dari survei Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga yang dipakai untuk konsumsi turun menjadi 71,6 persen, sementara porsi tabungan naik menjadi 17,7 persen. "Artinya, rumah tangga masih belanja, tetapi mulai sedikit lebih berhati-hati," tutur Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)