Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com
Harga Emas Dunia Nyaris Tak Bergerak Usai Anjlok 1,8%
Husen Miftahudin • 11 September 2026 08:43
Chicago: Harga emas bergerak terbatas pada perdagangan Jumat, setelah merosot hampir dua persen pada perdagangan sebelumnya. Tekanan datang dari data harga produsen Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak, serta imbal hasil obligasi pemerintah yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah turut membatasi pergerakan harga emas menjelang pertemuan Federal Reserve pada 14-15 September 2026.
Mengutip Investing.com, Jumat, 11 September 2026, harga emas spot XAU/USD naik 0,1 persen menjadi USD4.322,69 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas turun satu persen menjadi USD4.362,87 per ons.
Harga perak spot XAG/USD relatif stabil di USD63,57 per ons. Platinum XPT/USD juga bergerak datar, sedangkan indeks dolar AS berada di 99,07.
Tertekan data inflasi AS
Harga emas masih berada di jalur penurunan mingguan untuk tiga pekan berturut-turut setelah anjlok 1,8 persen pada Kamis, 10 September 2026. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah data indeks harga produsen (PPI) AS menunjukkan kenaikan 0,4 persen pada Agustus. Angka tersebut menjadi kenaikan bulanan terkuat sejak Mei.
Data tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan biaya energi terhadap inflasi yang lebih luas, terutama menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve.
Pergerakan harga minyak turut menjadi perhatian dalam prospek inflasi. Harga minyak mentah Brent mendekati USD108 per barel di tengah konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Intensitas konflik meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Amerika Serikat dilaporkan menyerang kapal tanker minyak Iran, sementara Iran meluncurkan rudal ke pangkalan udara di Yordania. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga dilaporkan menyerang infrastruktur energi Arab Saudi.
Gangguan pasokan energi yang berkelanjutan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini.
.jpg)
(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Permintaan ETF topang harga emas
Di tengah tekanan jangka pendek, emas masih mendapatkan dukungan dari permintaan investasi melalui produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas.
World Gold Council mencatat ETF emas fisik global menerima aliran dana sebesar USD18 miliar pada Agustus 2026. Nilai tersebut menjadi arus masuk bulanan terbesar kedua yang pernah tercatat.
Kepemilikan emas meningkat 121 ton menjadi rekor 4.189 ton. Sementara itu, aset yang dikelola melonjak 16 persen menjadi USD615 miliar. Kuatnya permintaan investasi tersebut turut menopang kenaikan harga emas sebesar 13 persen pada Agustus. Menurut World Gold Council, kenaikan tersebut menjadi penguatan bulanan terkuat ketiga dalam 25 tahun terakhir.
Analis pasar senior IG Tony Sycamore mengatakan harga emas masih berada cukup jauh di bawah rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar USD4.537 per ons.
Menurut dia, emas perlu kembali menembus level tersebut untuk memberikan sinyal berakhirnya tren penurunan dari rekor USD4.697 per ons. Jika belum mampu merebut kembali level tersebut, harga emas masih berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut hingga menuju USD4.200 per ons.