Rupiah Ditutup ke Level Rp16.777/USD

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.

Rupiah Ditutup ke Level Rp16.777/USD

Ade Hapsari Lestarini • 4 February 2026 16:53

Jakarta: Kurs rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini sedikit melemah. Mata uang Garuda itu bergerak fluktuatif seharian ini.

Mengacu data Bloomberg, Rabu, 4 Februari 2026, rupiah melemah hingga 23 poin atau setara 0,14 persen ke posisi Rp16.777 per USD jika dibandingkan perdagangan pagi yang berada di posisi Rp16.763 per USD.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah justru menguat menjadi Rp16.770 per USD. Angka ini naik 25 poin atau setara 0,15 persen dari sebelumya di Rp16.795 per USD.

Adapun data informasi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah berada di posisi Rp16.775 per USD. JISDOR adalah kurs referensi bank sentral yang digunakan sebagai dasar transaksi perdagangan berbasis valuta asing.
 




Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
 

Rupiah sempat diprediksi fluktuatif


Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada perdagangan Rabu ini akan bergerak secara fluktuatif dan kemungkinan besar akan melemah. Mata uang Garuda diprediksi bergerak di rentang Rp16.750 per USD hingga Rp16.780 per USD.

Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Iran 'serius berbicara' dengan Washington, dan diperkirakan akan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat di Turki. Trump memperingatkan dengan kapal perang besar AS yang menuju Iran, hal-hal buruk dapat terjadi jika kesepakatan tidak tercapai.

Di bidang perdagangan, Trump mengumumkan kesepakatan dengan India yang memangkas tarif AS atas barang-barang India menjadi 18 persen dari 50 persen sebagai imbalan atas penghentian pembelian minyak Rusia oleh India dan penurunan hambatan perdagangan. 

Trump mengumumkan kesepakatan itu di media sosial setelah melakukan panggilan telepon dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, dan mencatat India telah setuju untuk membeli minyak dari AS dan mungkin juga Venezuela.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menominasikan mantan gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral berikutnya. Meskipun nominasi tersebut menghilangkan poin ketidakpastian utama bagi pasar, mengurangi permintaan aset aman, Warsh juga dipandang sebagai pilihan yang kurang lunak daripada yang diharapkan pasar.

"Warsh sebagian besar mendukung tuntutan Trump untuk suku bunga yang lebih rendah. Tetapi ia juga mengkritik aktivitas pembelian aset Fed dan menyerukan neraca yang lebih kecil yang dapat membuat kebijakan moneter tetap relatif ketat dalam beberapa tahun mendatang," jelas Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)