Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Melejit Lebih dari 6%, Brent Sentuh USD118/Barel
Husen Miftahudin • 30 April 2026 07:59
Houston: Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), setelah laporan media tentang perpanjangan blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) dan penolakan proposal perdamaian oleh Iran membuat ketegangan tetap tinggi di Timur Tengah.
Selat Hormuz yang sangat penting tetap tertutup di tengah kebuntuan antara AS dan Iran, sehingga pasokan terus terganggu. Para pedagang juga mencermati langkah Uni Emirat Arab untuk meninggalkan kartel OPEC dan keputusan yang sudah diperkirakan sebelumnya oleh Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.
Mengutip Investing.com, Kamis, 30 April 2026, harga minyak Brent berjangka sebagai patokan harga minyak internasional untuk kontrak beli atau jual pada Juni, naik sebanyak 6,2 persen menjadi USD118,11 per barel. Sementara kontrak yang lebih aktif yang berakhir pada Juli naik 5,8 persen menjadi USD110,39 per barel.
Di sisi lain, harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka sebagai standar untuk penetapan harga minyak di AS untuk masa mendatang, naik hingga 6,8 persen menjadi USD106,74 per barel.
| Baca juga: Keluarnya UEA dari OPEC+ Warnai Lonjakan Harga Minyak Dunia |
Trump tolak proposal perdamaian Iran
Presiden AS Donald Trump telah menginstruksikan para pembantunya untuk bersiap menghadapi blokade angkatan laut yang berkepanjangan terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran, mengutip pejabat AS. Trump memandang blokade tersebut sebagai tindakan yang kurang berisiko daripada melanjutkan serangan militer skala besar terhadap Iran atau mengejar jalan keluar diplomatik yang cepat.
Laporan media pada Selasa mengatakan Trump tidak senang dengan proposal tiga langkah Iran yang akan membuka kembali Selat Hormuz sambil menunda negosiasi tentang ambisi nuklirnya. Laporan WSJ pada Rabu mengatakan Trump tidak bersedia mencabut tuntutan utama agar Iran berkomitmen untuk menangguhkan pengayaan uranium setidaknya selama 20 tahun.
Trump kemudian mengatakan blokade tersebut sebagai hal yang sedikit lebih efektif daripada pemboman, dan ia tidak akan mencabutnya karena tidak ingin Iran memiliki senjata nuklir. Axios juga melaporkan Komando Pusat AS telah menyiapkan rencana untuk gelombang serangan singkat dan kuat terhadap Iran untuk memecah kebuntuan dalam negosiasi.
"Iran tidak becus. Mereka tidak tahu cara menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera pintar!" tulis Trump di media sosial.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Fed pertahankan suku bunga
Terlepas dari konflik Timur Tengah, para pelaku pasar energi juga menerima apa yang diharapkan menjadi keputusan suku bunga dari The Fed di bawah kepemimpinan ketua saat ini, Jerome Powell.
The Fed mempertahankan suku bunga kebijakan moneternya tetap stabil seperti yang diperkirakan secara luas, dengan Powell pada pertemuan terakhir mengatakan masih terlalu dini untuk mengukur bagaimana lonjakan harga minyak dapat memengaruhi inflasi dan perekonomian AS.
Data sejak pertemuan terakhir The Fed menunjukkan dampak yang signifikan dari kenaikan harga minyak terhadap angka inflasi utama, meskipun angka inflasi inti, yang tidak termasuk makanan dan energi, tidak meningkat sebanyak yang dikhawatirkan.
Yang perlu diperhatikan, langkah The Fed tersebut menuai empat suara berbeda, jumlah tertinggi sejak 1992. Satu pembuat kebijakan lebih menyukai pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin, sementara tiga pembuat kebijakan lainnya tidak mendukung dimasukkannya bias pelonggaran dalam pernyataan bank sentral pada saat ini.