Ilustrasi. Foto: Freepik.
AS-Iran Memanas Lagi, BI Ramal Ekonomi Dunia di 2026 Cuma Tumbuh 3,0%
Husen Miftahudin • 22 July 2026 15:22
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia sepanjang 2026 masih lemah, yakni sekitar 3,0 persen.
Ini terjadi setelah ketidakpastian ekonomi global kembali meningkat di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi tersebut berdampak pada terganggunya rantai pasok global, kenaikan harga energi, hingga meningkatnya tekanan inflasi dunia.
Ketidakpastian global kembali meningkat pasca re-eskalasi intensitas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026, kata Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Perry menjelaskan, kembali terhambatnya lalu lintas di Selat Hormuz mengganggu produksi dan perdagangan antarnegara. Dampaknya, harga minyak dan berbagai komoditas global kembali mengalami kenaikan.
Sementara itu, inflasi global diproyeksikan meningkat hingga 4,5 persen. Menurut Perry, meningkatnya tekanan inflasi mendorong bank-bank sentral dunia mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat.
Suku bunga kebijakan moneter AS, Fed Funds Rate (FFR), diperkirakan naik lebih awal ke triwulan IV-2026, papar dia.

(Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Tangkapan layar YouTube Bank Indonesia)
Dolar AS makin kuat
Bank Indonesia juga mencatat kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat. Hingga 20 Juli 2026, yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai 4,56 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di level 4,18 persen.
Menurut Perry, kenaikan yield tersebut diperkirakan berlanjut seiring pelebaran defisit fiskal Amerika Serikat.
Di pasar keuangan global, meningkatnya ketidakpastian turut mendorong perpindahan aliran modal dari negara berkembang (emerging markets) menuju pasar keuangan Amerika Serikat dan aset yang dinilai lebih aman (safe-haven assets).
Kondisi tersebut memperkuat nilai tukar dolar AS, baik terhadap mata uang negara maju yang tercermin pada indeks DXY, maupun terhadap mata uang negara berkembang yang tercermin pada ADXY.
Menghadapi dinamika tersebut, Perry menegaskan pentingnya memperkuat koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang kembali meningkat tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, tegas Perry.