Rupiah Ditutup Turun ke Rp17.900/USD

Ilustrasi uang rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Ditutup Turun ke Rp17.900/USD

Gervin Nathaniel Purba • 13 October 2026 16:18

Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) tercatat menguat pada penutupan perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Mengutip data Bloomberg, rupiah bergerak menguat 13 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.900 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya pada level Rp17.913 per USD.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini mencatat rupiah melemah ke level Rp17.930 per USD dari sebelumnya Rp17.899 per USD.

Sedangkan data dari Yahoo Finance mencatat mata uang Garuda menguat dua poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.892 per USD.

"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 13 point sebelumnya sempat melemah 40 point pada level Rp17.900 per USD, dari penutupan sebelumnya pada level Rp17.913 per UDS," kata Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, dalam keterangan tertulis.

AS cabut sanksi bahan bakar Rusia


Menurut riset Ibrahim, pelemahan USD terhadap rupiah dipengaruhi oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Rusia telah sepakat untuk memasok solar ke pasar global. Pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi dari AS terhadap bahan bakar Rusia, sanksi yang sebelumnya diterapkan untuk memutus aliran pendapatan bagi Moskow guna membiayai perang di Ukraina. 

"Pasokan tambahan ini dapat membantu meredakan ketatnya pasokan di pasar bahan bakar global, sekaligus mengurangi kekhawatiran pasokan yang belakangan ini turut menopang harga minyak mentah," kata Ibrahim.

Namun, terdapat keraguan besar terkait gencatan senjata energi antara Rusia dan Ukraina tersebut. Terutama mengingat adanya laporan bahwa Rusia telah menyerang infrastruktur energi Ukraina setelah Trump mengumumkan kesepakatan itu.


Rupiah Dibuka Naik 33 Poin ke Rp17.866/USD

Ilustrasi. Foto: Dok MI

 

Para anggota parlemen AS dari kedua partai menilai kesepakatan Trump dengan Putin tersebut tampaknya melanggar undang-undang AS yang melarang impor energi Rusia hingga Moskow menghentikan agresinya terhadap Ukraina.

Kekhawatiran mengenai kerentanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk tetap menjadi sorotan, setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran menyerang bandara internasional Riyadh pada akhir pekan, serta adanya laporan serangan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz. 

"Insiden-insiden tersebut mengancam membatalkan pemulihan pasokan dari Timur Tengah yang sempat terlihat pada bulan September. Sekaligus memperkuat kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut di salah satu jalur transit energi terpenting di dunia," ujar Ibrahim.

Pasar pelototi rilis data inflasi AS


Perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi AS, yaitu Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI), yang masing-masing dijadwalkan pada hari Rabu dan Kamis. 

Angka CPI utama bulan September diperkirakan naik 0,6 persen secara bulanan (MoM), meningkat dari 0,4 persen pada bulan Agustus. Inflasi tahunan diprediksi naik menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen. 

"Di samping itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat juga akan menjadi perhatian pasar," katanya.

Ibrahim memprediksi mata uang Garuda bergerak fluktuatif untuk perdagangan besok. Rupiah diprediksi ditutup melemah pada level Rp17.900 per USD hingga Rp17.950 per USD.

"Sedangkan perdagangan dalam minggu ini direntang Rp17.780 hingga Rp18.060 per USD," ucapnya.




(Gervin Nathaniel Purba)