Sinyal Bullish Menguat, Harga Emas Berpotensi Tembus USD4.256

Ilustrasi. Foto: robinsonsjewelers.com

Sinyal Bullish Menguat, Harga Emas Berpotensi Tembus USD4.256

Husen Miftahudin • 22 June 2026 11:29

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih memiliki ruang penguatan pada perdagangan hari ini. Prospek tersebut didukung sinyal teknikal yang menunjukkan perubahan arah tren, ditambah sentimen fundamental yang masih menopang permintaan terhadap aset safe haven.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan analis Geraldo Kofit, pergerakan emas atau XAU/USD pada timeframe H1 mulai memperlihatkan perubahan tren yang cukup signifikan. Harga emas sebelumnya berada dalam tekanan bearish, struktur pelemahan utama dinilai telah selesai terbentuk sehingga membuka peluang bagi harga untuk memasuki fase penguatan.

Geraldo menjelaskan salah satu indikator utama perubahan tren terlihat dari kemunculan pola candlestick Bullish Marubozu. Pola ini mencerminkan dominasi pembeli sepanjang sesi perdagangan dan kerap menjadi sinyal awal menguatnya momentum bullish.

"Dengan struktur pasar yang mulai berubah dan munculnya pola bullish yang kuat, harga memiliki peluang untuk bergerak lebih tinggi dalam jangka pendek," jelas Geraldo dalam analisis hariannya, Senin, 22 Juni 2026,

Secara teknikal, target kenaikan pertama diperkirakan berada di level USD4.220 per troy ons. Jika level tersebut berhasil ditembus, harga berpotensi melanjutkan penguatan menuju area resistance berikutnya di kisaran USD4.256 per troy ons.

"Kedua level itu kini menjadi fokus utama investor dalam membaca arah pergerakan emas jangka pendek," jelas Geraldo.

Selain pola candlestick, indikator stochastic juga masih menunjukkan sinyal positif. Saat ini indikator bergerak naik menuju area overbought atau jenuh beli. Meski kondisi tersebut sering diartikan sebagai area rawan koreksi, belum ada tanda pembalikan arah yang kuat. Pergerakan indikator justru menunjukkan momentum beli masih mendominasi pasar.
 
Baca juga: Harga Emas Masih Berpeluang Cetak Rekor, ETF Jadi Kunci


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Sentimen safe haven masih jadi penopang


Dari sisi fundamental, harga emas masih mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global. Investor terus mencermati sejumlah risiko, mulai dari perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, hingga volatilitas tinggi di pasar keuangan internasional.

"Dalam kondisi seperti itu, emas cenderung menjadi pilihan utama karena dinilai mampu menjaga nilai investasi saat pasar bergejolak," papar dia.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar juga menjadi faktor penting yang menopang harga emas. Pelaku pasar mulai memperkirakan Federal Reserve berpotensi mengambil sikap lebih dovish jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan.

Penurunan inflasi, pelemahan pasar tenaga kerja, atau perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat membuka ruang bagi pemangkasan suku bunga.

Secara historis, kondisi tersebut biasanya mendorong pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang menjadi sentimen positif bagi emas. Pelemahan dolar membuat harga emas lebih kompetitif bagi investor global, sementara turunnya imbal hasil obligasi mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.

Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai prospek harga emas masih mengarah positif dalam jangka pendek. Perubahan struktur tren dari bearish ke bullish, kemunculan pola Bullish Marubozu, serta indikator stochastic yang masih menguat menunjukkan tekanan beli tetap solid.

"Dengan dukungan faktor fundamental seperti tingginya permintaan safe haven, potensi pelonggaran kebijakan moneter, serta peluang pelemahan dolar AS, ruang penguatan menuju area resistance USD4.220 per troy ons hingga USD4.256 per troy ons dinilai masih terbuka," tutup Geraldo.

(Husen Miftahudin)