Ilustrasi. Foto: MI.
Editorial MI: Usut Tuntas Kematian Rasya
Media Indonesia • 1 October 2026 05:21
KEMATIAN Muhammad Rasya Fadilla, 18, taruna Politeknik Pelayaran Malahayati Aceh, tidak boleh berlalu hanya sebagai kabar duka. Negara, melalui institusi yang berwenang, harus memastikan penyebab kematiannya secara terang benderang.
Rasya merupakan mahasiswa diploma III studi nautika asal Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe. Ia meninggal di RSUD dr Zainoel Abidin, Banda Aceh, Minggu (27/9), ketika masih dalam rangkaian masa orientasi kampus.
Sebelum meninggal, Rasya mengalami demam tinggi, nyeri tenggorokan, dan ruam kemerahan di sekujur tubuh. Sejauh ini belum terang apa penyebab pasti kematiannya. Karena itu, tidak patut siapa pun tergesa-gesa menyimpulkan, baik bahwa kematiannya semata-mata akibat penyakit maupun mengaitkannya dengan kekerasan.
Justru ketidakjelasan itulah yang menjadi alasan kuat untuk mengusut peristiwa tersebut hingga tuntas. Penyelidikan harus mampu merekonstruksi secara lengkap apa yang dialami Rasya sejak mengikuti orientasi, kapan kondisi kesehatannya mulai menurun, kegiatan apa saja yang dijalani, bagaimana penanganan pertama diberikan, hingga akhirnya ia dibawa ke rumah sakit.

Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
Semua pihak yang mengetahui rangkaian peristiwa mesti dimintai keterangan. Rekam medis dan bukti lain yang relevan harus diperiksa. Bila diperlukan, pemeriksaan medis lanjutan harus dilakukan demi mendapatkan penyebab kematian berdasarkan bukti, bukan asumsi.
Kampus dan Kementerian Perhubungan pun harus membuka informasi seluas-luasnya kepada keluarga dan aparat. Jangan ada fakta yang ditutupi atas nama menjaga citra institusi. Keselamatan peserta didik jauh lebih berharga daripada reputasi lembaga.
Keharusan mengusut tuntas semakin relevan karena dunia pendidikan kedinasan pernah menghadapi tragedi kekerasan. Pada 2023, Muhammad Rio Ferdinan Anwar, taruna Politeknik Pelayaran Surabaya, meninggal setelah mengalami kekerasan senior. Setahun kemudian, Putu Satria Ananta Rustika, taruna STIP Jakarta, meninggal setelah dianiaya senior.
Catatan kelam tersebut tentu tidak boleh serta-merta digunakan untuk menyimpulkan penyebab kematian Rasya. Namun, sejarah itu cukup menjadi alasan agar setiap kematian taruna dalam masa pendidikan diperiksa dengan standar kehati-hatian tertinggi.
Jika penyelidikan menemukan unsur kekerasan, kelalaian, ataupun pelanggaran prosedur, siapa pun yang bertanggung jawab mesti ditindak. Sebaliknya, jika kematian Rasya sepenuhnya disebabkan kondisi medis, hal itu pun harus diterangkan berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan sisakan teka-teki. Jangan biarkan keluarga hidup bersama pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Usut tuntas kematian Rasya. Sebab, pengungkapan kebenaran adalah hak korban, hak keluarga, sekaligus kewajiban negara.