Ilustrasi. Foto: Unsplash.
Harga Minyak Dunia Brent Tembus USD105/Barel, WTI Stabil di USD92/Barel
Husen Miftahudin • 29 September 2026 07:52
Houston: Harga minyak dunia memangkas sebagian kenaikan setelah sempat melonjak pada awal perdagangan. Pergerakan harga dipengaruhi penolakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap tawaran Teheran terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari.
Mengutip Xinhua, Selasa, 29 September 2026, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup hampir datar di sekitar USD92,60 per barel. Harga WTI sempat menyentuh level tertinggi sekitar USD96,54 per barel dalam perdagangan intrahari.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik 0,92 persen menjadi di atas USD105 per barel. Harga Brent sebelumnya sempat menembus USD108 per barel.
Sebelumnya, Iran mengumumkan proposal perdamaian dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada pekan sebelumnya. Teheran menyampaikan proposal tersebut kepada AS melalui mediator Qatar.
Trump pada Sabtu menyatakan telah menolak tawaran Iran. Namun, kepada Axios pada Minggu, Trump mengatakan para negosiator AS diharapkan tetap melanjutkan pembicaraan pada pekan ini. Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar minyak karena Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam perdagangan energi global.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
The Fed pantau tekanan inflasi
Sementara itu, mengutip Investing.com, Gubernur Federal Reserve Lisa Cook mengatakan dirinya memperkirakan tekanan inflasi masih berlanjut dalam beberapa bulan mendatang. Tekanan tersebut antara lain berasal dari permintaan terkait kecerdasan buatan (AI) dan kenaikan harga minyak. Meski demikian, Cook tidak menyatakan kenaikan suku bunga lanjutan diperlukan untuk merespons kondisi tersebut.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan Oktober meningkat dalam beberapa hari terakhir. Perubahan ekspektasi tersebut turut dipengaruhi data ekonomi yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS tetap solid.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve bulan depan mencapai 70,3 persen. Angka tersebut meningkat dari 57,6 persen pada sepekan sebelumnya dan 17,7 persen sebulan sebelumnya.
Perkembangan ekspektasi suku bunga turut menjadi perhatian pelaku pasar karena kebijakan moneter Federal Reserve dapat memengaruhi prospek permintaan energi dan pergerakan harga komoditas.
Sejumlah data ekonomi penting AS akan dirilis pada pekan ini. Data tersebut mencakup indikator inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Rangkaian data ekonomi tersebut akan mencapai puncaknya dengan laporan penggajian pemerintah AS pada Jumat. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang akan dicermati pasar dalam melihat arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya.