Ilustrasi emas batangan. Foto: Investopedia.
Emas Mulai Menguat di Tengah Harapan De-eskalasi, Simak Proyeksinya untuk Hari Ini
Husen Miftahudin • 1 April 2026 10:09
Jakarta: Harga emas dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan terbaru seiring meningkatnya harapan de-eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Logam mulia ini mencatat kenaikan signifikan setelah muncul sinyal bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi mereda, memicu kembali minat investor terhadap aset safe haven.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, pergerakan emas (XAU/USD) saat ini menunjukkan kecenderungan bullish dalam jangka pendek. Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyampaikan secara teknikal tren penguatan didukung oleh kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average pada timeframe satu jam (H1). Kondisi ini mencerminkan tekanan beli masih mendominasi pergerakan harga.
Pada sesi sebelumnya, harga emas sempat tertekan hingga menyentuh level USD4.482 sebelum akhirnya berbalik arah dan diperdagangkan di kisaran USD4.648. Kenaikan tersebut mencerminkan respons pasar terhadap sentimen geopolitik yang mulai mereda, setelah Presiden Iran mengindikasikan kesiapan untuk mengakhiri konflik dengan syarat adanya jaminan keamanan.
Di sisi lain, laporan menyebutkan Presiden AS Donald Trump juga membuka peluang penghentian kampanye militer terhadap Iran meskipun jalur strategis seperti Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Pernyataan dari pejabat pertahanan AS yang menegaskan bahwa pembicaraan damai tengah berlangsung aktif semakin memperkuat ekspektasi pasar terhadap stabilitas geopolitik dalam waktu dekat.
"Selama tekanan bullish berlanjut, harga emas berpotensi menguji level resistance di USD4.862. Namun, jika terjadi koreksi, maka area support terdekat berada di kisaran USD4.539," ujar Andy Nugraha dalam risetnya, Rabu, 1 April 2026.
| Baca juga: Emas Mulai Pulih, Harganya Bahkan Diramal Bakal Tembus USD5.400 di Akhir 2026 |
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ditopang penurunan imbal hasil obligasi
Dari sisi fundamental, penguatan emas juga ditopang oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 10 tahun tercatat turun menjadi 4,31 persen, yang berdampak pada pelemahan dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) terpantau melemah ke level 99,91, sehingga meningkatkan daya tarik emas bagi investor global.
Selain faktor geopolitik dan pergerakan dolar, pasar juga mencermati perkembangan data ekonomi AS. Laporan terbaru menunjukkan adanya pelemahan di pasar tenaga kerja, tercermin dari penurunan jumlah lowongan pekerjaan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa momentum pertumbuhan ekonomi mulai melambat.
"Meski demikian, tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama. Peningkatan harga energi mendorong ekspektasi inflasi tetap tinggi, yang diperkuat oleh pernyataan pejabat Federal Reserve yang menekankan pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Sikap tersebut turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga ke depan," terang Andy.
Dengan kombinasi faktor teknikal yang mendukung dan dinamika fundamental yang kompleks, harga emas diperkirakan akan bergerak volatil dalam waktu dekat, dengan kecenderungan menguat selama sentimen pasar tetap kondusif.
"Investor disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global sebagai acuan dalam mengambil keputusan investasi," kata Andy mengingatkan.