Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Brent Capai USD106,28/Barel
Husen Miftahudin • 15 September 2026 08:08
Houston: Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin waktu setempat setelah sempat memangkas kenaikan. Pergerakan harga dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah dan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kemungkinan kesepakatan dengan Iran.
Mengutip Investing.com, Selasa, 15 September 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman November naik 1,6 persen menjadi USD106,28 per barel. Harga Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam sesi perdagangan di USD109,74 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman Oktober naik 1,8 persen menjadi USD101,89 per barel. WTI sebelumnya mencapai level tertinggi sesi di USD104,91 per barel.
Harga minyak telah melonjak hampir 20 persen dalam dua pekan terakhir seiring meningkatnya kembali serangan militer antara AS dan Iran serta meluasnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap aliran minyak melalui dua jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.
Trump mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington. Pemerintah AS juga menyatakan terbuka terhadap konsep tersebut. Sebelumnya, harga minyak melonjak setelah kelompok Houthi kembali melancarkan serangan terhadap Arab Saudi serta pembicaraan negara-negara Teluk dengan Iran terkait pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz ditunda.
Kerusakan pada jalur pipa minyak utama Arab Saudi pada Jumat sebelumnya turut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan global.
Pembicaraan negara Teluk dan Iran ditunda
Pelaku pasar sebelumnya sempat berharap pertemuan negara-negara Teluk dan Iran dapat menghasilkan kesepakatan terkait pengelolaan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin tersebut kemudian ditunda.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan negaranya akan berkoordinasi dengan Oman untuk menentukan jadwal baru pertemuan tersebut, menurut Kantor Berita Fars.
Penundaan itu sempat mendorong harga minyak lebih tinggi pada awal perdagangan Senin. Namun, kenaikan kemudian berkurang setelah Trump menyampaikan pernyataan mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran. "Iran ingin mencapai kesepakatan, dengan cepat dan mendesak," kata Trump, dikutip dari materi yang disampaikan.
Trump kemudian mengatakan dirinya akan menentukan apakah AS akan terlibat dalam pembicaraan tersebut. "Saya akan menentukan apakah AS akan memilih untuk terlibat atau tidak - sebuah konsep yang kami terbuka untuk menerimanya," tambah Trump.
Kantor Berita Buruh Iran (ILNA) juga melaporkan AS sedang berupaya mencapai kesepakatan "selangkah demi selangkah" dengan Iran. Informasi tersebut mengutip sumber-sumber Pakistan. Harga minyak kemudian memangkas sebagian kenaikannya setelah pernyataan Trump dan laporan ILNA.
Pelaku pasar tetap mencermati arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang mengalami penyempitan lalu lintas. Pergerakan kapal tanker melalui jalur tersebut telah melambat hingga hanya sebagian kecil dari tingkat sebelum perang dimulai pada akhir Februari.
Sebelum konflik, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia mengalir melalui Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat perkembangan keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut menjadi perhatian pasar minyak global.
.jpg)
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Konflik Houthi dan Arab Saudi meluas
Selain Selat Hormuz, Selat Bab el-Mandeb juga menjadi salah satu titik konflik dalam eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Sekitar 12 persen perdagangan dunia melintasi selat tersebut, menurut laporan Al Jazeera.
Associated Press (AP) melaporkan pada Senin kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman telah mengambil alih lebih banyak pulau strategis di Laut Merah bagian selatan.
Mengutip pejabat pemerintah Yaman dan Houthi, AP melaporkan kelompok tersebut mengerahkan pejuang ke Pulau Greater Hanish dan Lesser Hanish. Kedua pulau tersebut berada sekitar 160 kilometer di utara Selat Bab el-Mandeb.
Pada pekan sebelumnya, Houthi menguasai sebagian wilayah pesisir Laut Merah di Yaman. Kelompok tersebut juga melancarkan serangan pesawat nirawak ke sejumlah lokasi di Arab Saudi bagian selatan.
Serangan pesawat nirawak turut menghantam jalur pipa utama Timur-Barat Arab Saudi di wilayah Riyadh dan Madinah. Serangan tersebut menyebabkan jalur pipa ditutup.
Reuters mengutip pembeli dan pedagang minyak Saudi yang memperkirakan hingga empat persen pasokan minyak global berpotensi hilang jika ekspor melalui jalur tersebut tidak kembali berjalan dalam beberapa hari.
Secara terpisah, AP melaporkan jalur pipa tersebut diperkirakan sebagian besar tidak beroperasi selama beberapa pekan selama proses perbaikan berlangsung. Informasi itu mengutip dua pejabat regional.
Jalur pipa Timur-Barat membentang sekitar 1.200 kilometer melintasi Arab Saudi. Infrastruktur tersebut memiliki kapasitas hingga 7 juta barel minyak per hari dan menjadi salah satu jalur utama ekspor minyak Saudi menuju Laut Merah. Jalur tersebut juga menyediakan alternatif pengiriman minyak tanpa melalui Selat Hormuz.