Harga Emas Dunia Makin Kinclong, Nyaris Tembus USD4.500/Troy Ons

Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com

Harga Emas Dunia Makin Kinclong, Nyaris Tembus USD4.500/Troy Ons

Husen Miftahudin • 18 August 2026 08:39

Chicago: Harga emas dunia menguat dan bertahan di dekat level USD4.400 per ons pada perdagangan Selasa. Kenaikan dipengaruhi melemahnya ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan.

Selain itu, meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah turut menopang permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Penguatan emas terjadi meski imbal hasil obligasi pemerintah AS masih berada di level tinggi.

Mengutip Investing.com, Selasa, 18 Agustus 2026, harga emas spot XAU/USD naik 0,3 persen menjadi USD4.429,49 per ons. Kontrak berjangka emas juga menguat 0,3 persen menjadi USD4.486,07 per ons.

Harga perak XAG/USD naik 0,8 persen menjadi USD66,28 per ons. Sementara itu, platinum XPT/USD naik tipis 0,2 persen menjadi USD1.776,29 per ons. Indeks dolar AS bergerak relatif stabil di sekitar level 99,57.
 

 

Ekspektasi suku bunga The Fed menurun


Harga emas telah menguat sekitar 1,5 persen dalam dua sesi perdagangan terakhir. Penguatan tersebut memperpanjang pemulihan harga emas dari area USD4.000 per ons.

Sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut turut menekan dolar AS dan mengurangi dua faktor yang sebelumnya membebani harga emas.

Pasar swap suku bunga juga tidak lagi sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir 2026. Kondisi tersebut berbeda dengan pekan sebelumnya ketika pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun.

Prospek suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Di tengah ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun justru naik ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kenaikan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap peningkatan belanja pemerintah, penerbitan utang jangka panjang dalam jumlah besar, serta risiko inflasi.

Kondisi tersebut menciptakan situasi yang tidak biasa bagi pasar emas. Imbal hasil obligasi yang tinggi biasanya mengurangi daya tarik emas karena emas tidak menghasilkan imbal hasil.

Namun, kekhawatiran terhadap beban utang pemerintah yang meningkat dapat mendorong investor mencari aset lindung nilai dan menopang permintaan terhadap emas.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Ketegangan Timur Tengah dukung permintaan emas


Faktor geopolitik juga menjadi penopang harga emas. Pertempuran yang kembali terjadi di Lebanon meningkatkan ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.

Presiden AS Donald Trump juga mengatakan tidak tertarik memperpanjang gencatan senjata sementara dengan Iran yang disepakati pada Juni.

Ketegangan masih terjadi di sekitar Selat Hormuz. Serangan terhadap kapal di jalur pelayaran tersebut turut mengganggu aktivitas pengiriman.

Gangguan yang berlangsung lebih lama berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pertimbangan The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Di tengah kondisi tersebut, harga emas menunjukkan ketahanan meski imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. Permintaan yang dipengaruhi risiko geopolitik membantu mengimbangi tekanan dari pasar suku bunga.

Di sisi lain, Tiongkok juga menjadi salah satu sumber dukungan terhadap harga emas. Pemulihan harga emas di atas USD4.000 per ons turut didorong peningkatan minat investor dan pembelian oleh bank sentral, terutama dari Tiongkok.

(Husen Miftahudin)