Harga Emas Dunia Menguat, Tembus USD4.400/Troy Ons

Emas batangan. Foto: Bullionvault.com

Harga Emas Dunia Menguat, Tembus USD4.400/Troy Ons

Husen Miftahudin • 17 August 2026 12:47

Chicago: Harga emas dunia menguat pada awal pekan seiring investor mencermati data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih lemah dan meningkatnya risiko di pasar energi. Pasar juga menanti risalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada Juli yang dijadwalkan dirilis pekan ini sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga.

Mengutip Investing.com, Senin, 17 Agustus 2026, harga emas spot XAU/USD naik 0,7 persen menjadi USD4.408,12 per troy ons. Kontrak berjangka emas turut menguat 0,6 persen menjadi USD4.464,30 per troy ons.

Logam mulia lainnya juga mencatat penguatan. Harga perak XAG/USD naik 1,8 persen menjadi USD65,84 per troy ons, sedangkan platinum XPT/USD menguat 1,8 persen menjadi USD1.749,15 per troy ons. Pada saat yang sama, indeks dolar AS turun 0,1 persen ke sekitar 99,54.

Harga emas memasuki pekan baru setelah mencatat kenaikan hampir 1 persen pada pekan sebelumnya. Sejumlah data ekonomi AS yang lebih lemah turut meredakan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Sentimen konsumen AS menurun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan. Sementara itu, penjualan ritel mencatat penurunan bulanan terbesar dalam lebih dari satu tahun. Data tersebut mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk memperketat kebijakan moneter. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Analis ANZ juga mencatat hubungan terbalik antara harga emas dan imbal hasil obligasi pemerintah AS semakin terlihat. Kenaikan biaya pinjaman cenderung memberikan tekanan terhadap harga emas batangan.
 

 

Pasar menanti risalah The Fed


Investor akan mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai pandangan para pembuat kebijakan The Fed pada Rabu, saat risalah rapat FOMC Juli dijadwalkan dirilis. Dokumen tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk melihat pandangan anggota The Fed terhadap inflasi, kondisi ekonomi, dan arah suku bunga.

Pergerakan emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas karena biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi lebih rendah.

Data ekonomi AS yang lebih lemah belum sepenuhnya menghilangkan risiko inflasi. Ketegangan di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kapal dilaporkan diserang pada akhir pekan. Amerika Serikat juga menyatakan sedang mempersiapkan langkah tambahan untuk meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Iran.

Pada saat yang sama, sejumlah kapal terus meninggalkan jalur perairan strategis tersebut. Beberapa di antaranya dilaporkan mematikan transponder satelit untuk mengurangi risiko terdeteksi. Iran dan Oman juga disebut semakin mendekati kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, meskipun AS tidak terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Gangguan pelayaran, ketegangan geopolitik, dan proses diplomasi yang belum pasti membuat prospek pasokan energi global masih menghadapi ketidakpastian. Kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan mempersulit The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pembelian bank sentral topang harga emas


Penguatan harga emas di atas USD4.000 per ons juga didukung permintaan investor yang lebih kuat serta peningkatan pembelian oleh bank sentral, terutama Tiongkok.

Harga emas berada di atas rata-rata pergerakan 100 hari untuk pertama kalinya sejak April pada pekan lalu dan masih bertahan di sekitar level tersebut.

ANZ mencatat bank sentral membeli 244 ton emas pada kuartal I 2026. Angka tersebut menjadi pembelian kuartalan tertinggi sejak kuartal IV 2024.

Tiongkok juga meningkatkan pembelian emas menjadi 8 ton pada April. Jumlah tersebut menjadi penambahan bulanan terbesar negara tersebut sejak Desember 2024.

(Husen Miftahudin)