Rupiah Sore Ini di Level Rp16.888/USD

Ilustrasi. Foto: dok MI/Susanto.

Rupiah Sore Ini di Level Rp16.888/USD

Ade Hapsari Lestarini • 20 February 2026 17:35

Jakarta: Kurs rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan sore ini melemah tipis. Sejak perdagangan pagi, mata uang Garuda itu sudah tertekan.

Mengacu data Bloomberg, Jumat, 20 Februari 2026, rupiah melemah enam poin atau setara 0,04 persen ke posisi Rp16.888 per USD jika dibandingkan perdagangan pagi yang berada di posisi Rp16.881 per USD.

Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah juga melemah sembilan poin menjadi Rp16.870 per USD. Angka ini menguat dibandingkan sebelumnya yang berada di Rp16.920 per USD.

Adapun data informasi kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah berada di posisi Rp16.885 per USD. JISDOR adalah kurs referensi bank sentral yang digunakan sebagai dasar transaksi perdagangan berbasis valuta asing.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan kurs rupiah dipengaruhi komitmen kerja sama antara Indonesia dengan AS.

"Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menyepakati dokumen perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance, Jumat ini. Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump," ujar dia, dilansir Antara, Jumat, 20 Februari 2026.


Ilustrasi. Foto: Freepik
 


11 MoU antara Indonesia-Amerika Serikat


Dalam perjanjian itu, tertuang sejumlah komitmen kerja sama antara kedua negara yang melingkupi 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, hingga komitmen pembelian energi dan pesawat.

Penandatanganan dokumen tersebut yang dilakukan di Washington DC, kata dia, menandai babak baru hubungan ekonomi dua negara yang selama ini ditopang perdagangan, investasi, dan kerja sama strategis Indo-Pasifik.

Lebih lanjut, perjanjian ini dinilai akan menjadi tonggak bersejarah dalam kemitraan RI-AS, memperkuat keamanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta secara berkelanjutan berkontribusi terhadap kemakmuran global. Lebih jauh,

"Prabowo dan Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan tersebut ke dalam kebijakan teknis dan regulasi pendukung agar implementasinya berdampak nyata terhadap perekonomian," ungkap Ibrahim.

Melihat sentimen global risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Januari menunjukkan nada hati-hati namun cenderung hawkish. Risalah tersebut memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi.

Selain itu, data ekonomi AS Klaim Pengangguran Awal turun menjadi 206 ribu untuk pekan yang berakhir pada 14 Februari, jauh di bawah perkiraan 225 ribu dan turun dari 229 ribu sebelumnya. Selanjutnya, Survei Manufaktur Federal Reserve Philadelphia naik menjadi 16,3 pada Februari, melampaui ekspektasi 8,5 dan membaik dari 12,6 pada bulan Januari.

“Fokus pasar hari ini adalah pembacaan awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS untuk kuartal keempat, Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), dan data Indeks Manajer Pembelian Global S&P (PMI), yang akan dirilis malam nanti,” ucap dia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Ade Hapsari Lestarini)