Harga Emas Dunia Anjlok di Bawah USD4.000 Gegara Lonjakan Minyak dan Inflasi

Ilustrasi, emas batangan. Foto: sempsajp.com

Harga Emas Dunia Anjlok di Bawah USD4.000 Gegara Lonjakan Minyak dan Inflasi

Husen Miftahudin • 24 October 2026 08:21

Chicago: Harga emas dunia berada di jalur penurunan mingguan terdalam selama lebih dari empat bulan pada perdagangan Jumat waktu setempat. Harga emas spot merosot di bawah USD4.000 per troy ons, tertekan kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak mentah.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 24 Oktober 2026, harga emas spot turun 0,7 persen menjadi USD3.995,63 per ons. Dengan pergerakan tersebut, emas spot diperkirakan mencatatkan penurunan lebih dari 3,7 persen sepanjang pekan.

Sementara itu, harga emas berjangka justru menguat tipis 0,2 persen menjadi USD4.002,10 per ons. Meski demikian, kontrak tersebut masih berada di jalur penurunan mingguan sebesar 3,8 persen.
 

 

Tertekan lonjakan harga minyak


Tekanan terhadap harga emas terjadi seiring kenaikan harga minyak mentah Brent. Kontrak berjangka minyak Brent, yang menjadi acuan harga minyak global, kembali naik hingga menyentuh USD116 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan dari kawasan penghasil minyak utama.

Laporan media pada pekan ini menyebutkan Amerika Serikat (AS) dan Israel tengah mempertimbangkan rencana untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November.

Iran memperingatkan akan membalas setiap serangan baru, termasuk kemungkinan menargetkan infrastruktur ekonomi dan sipil di sekitar Teluk Persia.

Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, dilaporkan terus menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi. Pada Kamis, perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, dekat Bahrain.

Harga Brent telah meningkat lebih dari 3 persen sepanjang pekan. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran mengenai tekanan inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Ekspektasi suku bunga Fed jadi perhatian


Pelaku pasar turut mencermati pertemuan Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut, sementara kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember tetap menjadi perhatian investor.

Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya menilai kenaikan suku bunga dalam waktu dekat belum mendesak. Namun, para pembuat kebijakan tetap menekankan pentingnya mengendalikan inflasi agar kembali menuju target 2 persen.

Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Sementara itu, di tengah penurunan saham-saham teknologi dan meningkatnya minat terhadap aset yang relatif aman, harga emas justru belum menunjukkan penguatan. Analis ING menyatakan emas gagal memperoleh keuntungan dari aksi jual saham teknologi baru-baru ini dan pergeseran investor menuju aset yang dinilai lebih aman, termasuk obligasi pemerintah AS.

Perhatian investor terhadap dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi dan kebijakan moneter menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan harga emas sepanjang pekan.

(Husen Miftahudin)