Ilustrasi. Foto: MI/Usman Iskandar
Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup ke Level Rp18.080/USD
Gervin Nathaniel Purba • 23 October 2026 16:09
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026. Dikutip dari Bloomberg, rupiah bergerak turun 20 poin atau 0,11 persen menjadi Rp18.080 per USD, dibandingkan penutupan sore kemarin pada level Rp18.060 per USD.
Jika dilihat dari data kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, mata uang Garuda tercatat melemah pada level Rp18.069 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya sebesar Rp18.047 per USD.
Sementara data Yahoo Finance mencatat rupiah turun 132 pon atau setara 0,74 persen. Rupiah ditutup ke level Rp18.075 per USD.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 20 poin. Sebelumnya sempat melemah 25 poin pada level Rp18.080 per USD dari penutupan sebelumnya pada level Rp18.060 per USD," kata Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, dalam keterangan tertulis, Jumat, 23 Oktober 2026.
Jika dibandingkan dengan perdagangan tadi pagi, rupiah juga tercatat tumbang terhadap USD. Rupiah dibuka pada level Rp18.067 per USD.
Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.
Guncangan ganda harga minyak dan pangan
Menurut riset Ibrahim, pelemahan rupiah dipicu oleh harga minyak yang tinggi dan lonjakan harga pangan yang menimbulkan guncangan ganda. Guncangan ini secara langsung menekan ketahanan fiskal dan stabilitas ekonomi nasional.
"Oleh karena itu, kombinasi tersebut berdampak terhadap APBN dan kekhawatiran fiskal," kata Ibrahim.
Sebagai negara pengimpor bersih minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN secara otomatis melipatgandakan kebutuhan belanja negara untuk subsidi BBM dan LPG, serta kompensasi energi. Setiap kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) memperlebar defisit APBN.
Dalam hal tersebut, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal spac), yaitu menahan harga energi domestik yang beresiko memperlebar defifit APBN, atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi, sehingga akan memberatkan masyarakat.
"Sehingga berdampak terhadap tekanan nilai tukar dan pembiayaan utang karena tingginya impor energi meningkatkan kebutuhan devisa USD, yang menekan nilai tukar rupiah," kata Ibrahim.
Ibrahim memprediksi mata uang Garuda bergerak fluktuatif untuk perdagangan Senin, 23 Oktober 2026. Rupiah diprediksi ditutup melemah pada rentang Rp18.080 per USD hingga Rp18.130 per USD.
"Sedangkan perdagangan dalam minggu depan pada rentang Rp17.900 hingga Rp18.250 per USD," ucap dia.