Naik 0,46%, Rupiah Balik Lagi ke Level Rp17.800-an Pagi Ini

Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.

Naik 0,46%, Rupiah Balik Lagi ke Level Rp17.800-an Pagi Ini

Husen Miftahudin • 30 September 2026 09:31

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami kenaikan.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 30 September 2026, rupiah hingga pukul 09.21 WIB berada di level Rp17.899 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik sebanyak 82 poin atau setara 0,46 persen dari Rp17.981 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.960 per USD. Rupiah juga menguat sebanyak 33 poin atau setara 0,18 persen dari Rp17.993 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Meski demikian, analis mata uang Ibrahim Assuabi memprediksi mata uang rupiah pada perdagangan hari ini ditutup melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.980 per USD hingga Rp18.030 per USD," papar Ibrahim dalam analisis hariannya.
 

 

Revisi proposal perdamaian AS-Iran


Ibrahim mengungkapkan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh sentimen para pejabat AS dan Iran yang tengah berbicara secara terpisah dengan pihak penengah, sebagai bagian dari upaya baru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan, menurut pejabat dari kedua negara. 

Pembicaraan lebih lanjut diperkirakan akan berfokus pada versi revisi dari proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, ungkap seorang pejabat yang mengetahui perihal negosiasi tersebut kepada Reuters.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, yang tetap berada di New York setelah menghadiri Sidang Majelis Umum, mengatakan Iran berharap menerima tanggapan AS atas proposal gencatan senjata terbarunya serta syarat-syarat Iran untuk memulihkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

"Jika pihak Amerika mengklaim bahwa mereka sedang mengupayakan kesepakatan atau solusi damai, kami telah mengajukan solusi tersebut," ujar Araqchi.

Rencana tujuh hari Iran tersebut mencakup penghentian segala permusuhan di Iran dan Lebanon, pencairan aset Iran senilai miliaran dolar, penghentian sanksi terhadap minyak Iran, serta pencabutan blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sementara itu, karena tingginya harga minyak, para pelaku pasar memperhitungkan adanya pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh The Fed, menyusul kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuannya tanggal 15-16 September lalu, yang merupakan kenaikan suku bunga dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar kini melihat adanya peluang sebesar 70 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan di bulan Oktober, menyusul serangkaian pernyataan bernada hawkish dari para pejabat The Fed pekan lalu.

Para pelaku pasar juga akan mencermati data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan akan dirilis pada Rabu, data ISM Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Kamis, serta data Nonfarm Payrolls (NFP) pada Jumat. Selain itu, komentar dari para pejabat The Fed juga akan dipantau untuk mendapatkan petunjuk mengenai langkah kebijakan bank sentral selanjutnya.


Ilustrasi: Foto: Magnific.
 

RUU APBN 2027 disahkan


Di sisi lain, DPR RI  mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau RAPBN 2027 menjadi undang-undang (UU). Sebelumnya, pada Pembicaraan Tingkat I antara Badan Anggaran (Banggar) DPR dan pemerintah, telah disepakati asumsi ekonomi makro, target indikator kesejahteraan, serta postur APBN 2027. 

Di dalamnya, DPR dan pemerintah telah menyepakati di antarannya pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen, tingkat inflasi 2,5 persen (yoy), dan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian, dari segi postur APBN, pemerintah dan DPR menyepakati target pendapatan negara Rp3.425,1 triliun, belanja negara Rp4.106,26 triliun dan defisit Rp671,2 triliun atau setara 2,4 persen terhadap PDB. 

Menurut Ibrahim, target pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen yang disepakati itu dibutuhkan untuk memperbesar kue ekonomi Indonesia. Salah satu strategi yang digunakan pemerintah adalah memperbesar nilai tambah ekspor dan investasi.

Terkait dengan tata kelola ekspor, Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan sejumlah kebijakan seperti ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, kebijakan retensi Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA), serta bursa mineral komoditas. 

Sedangkan, target perampingan defisit sebesar 2,4 persen terhadap PDB adalah untuk memastikan kemampuan maksimal APBN untuk menjalankan fungsi anggaran serta memegang prinsip kehati-hatian. Defisit ini dipertahankan meski adanya kenaikan belanja negara sebesar Rp9,1 triliun.

"Oleh sebab itu, pemerintah dan DPR juga menaikkan target pendapatan negara sebesar Rp9,1 triliun juga melalui dua pilar yakni pendapatan perpajakan sebesar Rp4 triliun serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp5,1 triliun," papar Ibrahim.

(Husen Miftahudin)