Dolar AS Makin Perkasa, Euro hingga Pound Sterling 'Nyerah'

Dolar AS. Foto: Freepik.

Dolar AS Makin Perkasa, Euro hingga Pound Sterling 'Nyerah'

Husen Miftahudin • 15 January 2026 08:38

New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), di tengah penantian investor terhadap data Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) dan penjualan ritel.
 
Mengutip Xinhua, Kamis, 15 Januari 2026, euro melemah menjadi USD1,1636 dari USD1,1649 pada sesi sebelumnya, dan pound sterling Inggris turun menjadi USD1,3431 dari USD1,3435 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar AS diperdagangkan pada 158,5 yen Jepang, lebih rendah dari 159,11 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,8004 franc Swiss dari 0,8006 franc Swiss.
 
Di sisi lain, mata uang Negeri Paman Sam itu turun menjadi 1,3874 dolar Kanada dari 1,3887 dolar Kanada. Dolar AS juga turun menjadi 9,2073 krona Swedia dari 9,2132 krona Swedia.
 

Baca juga: Dolar Pulih dan Sukses Ganyang Mata Uang Utama Dunia saat Inflasi AS Stabil


(Dolar AS. Foto: Freepik)
 

Pasar pelototi data PPI dan penjualan ritel

 
Mengutip Investing.com, dolar AS memasuki sesi penting karena investor mengalihkan perhatian mereka ke PPI AS dan penjualan ritel, dua rilis data yang dapat membantu menentukan langkah kebijakan Federal Reserve selanjutnya.
 
PPI akan memberikan pembaruan tentang tekanan inflasi di tingkat produsen, sementara penjualan ritel akan menawarkan pandangan baru tentang permintaan konsumen.
 
Bersama-sama, data tersebut dapat menunjukkan apakah inflasi tetap cukup kuat untuk membenarkan mempertahankan suku bunga tinggi atau apakah tanda-tanda pendinginan aktivitas memperkuat alasan untuk penurunan suku bunga di akhir tahun ini.
 
PPI inti diperkirakan naik 0,2 persen secara bulanan, sama dengan angka utama. Dari sisi permintaan, penjualan ritel diperkirakan naik 0,5 persen, pulih dari stagnasi bulan sebelumnya, sementara penjualan ritel inti diperkirakan naik 0,4 persen.
 
Jika PPI dan penjualan ritel sama-sama di atas ekspektasi, hal itu akan menunjukkan tekanan inflasi tetap tinggi dan permintaan konsumen tetap stabil. Hasil seperti itu kemungkinan akan memperkuat sikap The Fed yang menjaga suku bunga tetap tinggi untuk jangka waktu lama dan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga dalam jangka pendek.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)