DKPP Ingin Lebih Dekat dengan Gen Z Lewat Podcast dan Pendidikan Etik

Anggota DKPP Muhammad Tio Aliansyah dalam sesi tanya jawab saat Rapat Fasilitasi Pemberitaan DKPP Melalui Kemitraan Strategis Humas dan Media Massa di Kabupaten Bogor. (Dokumentasi/ Humas DKPP)

DKPP Ingin Lebih Dekat dengan Gen Z Lewat Podcast dan Pendidikan Etik

Silvana Febiari • 5 July 2026 12:19

Bogor: Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) ingin memperkuat kedekatan dengan Gen Z melalui berbagai upaya komunikasi dan edukasi menjelang Pemilu 2029. Salah satu langkah yang disiapkan, yakni mengaktifkan kembali podcast serta merancang program pendidikan etik yang menyasar kalangan muda.

"Pada prinsipnya, kita memang ingin lebih dekat dengan Gen Z. Kita sudah melakukan itu saat masih di kantor lama, kemudian melalui podcast. Nah, sekarang kita sudah mulai mengaktifkan podcast lagi," kata Anggota DKPP Muhammad Tio Aliansyah dalam sesi tanya jawab saat Rapat Fasilitasi Pemberitaan DKPP Melalui Kemitraan Strategis Humas dan Media Massa di Kabupaten Bogor, Kamis, 2 Juli 2026.

Ke depan, DKPP akan mengundang pemilih pemula, termasuk generasi muda yang belum pernah menggunakan hak pilihnya untuk berdiskusi dalam podcast tersebut. DKPP ingin menggali pandangan Gen Z mengenai demokrasi, pemilu, hingga harapan ketika nantinya menggunakan hak pilih.


"Ke depan, kita akan mengundang bisa jadi pemilih pemula atau yang belum pernah sama sekali mengetahui tentang pemilu karena belum pernah menggunakan hak pilihnya. Itu akan kita undang. Bagaimana sih pandangannya tentang demokrasi, pengetahuannya tentang pemilu, dan apa yang dirasakannya ketika nanti menggunakan hak pilihnya? Itu yang akan kita gali. Ini menjadi masukan dan poin positif bagi kami," jelas Tio. 

Upaya mendekatkan diri kepada generasi muda juga dilakukan melalui penyusunan program pendidikan etik. Anggota DKPP I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi mengatakan lembaganya tengah merancang kurikulum yang diharapkan dapat diterapkan di lingkungan perguruan tinggi melalui proyek percontohan.

"DKPP sedang merancang suatu kurikulum. Mudah-mudahan ini bisa diterima oleh pihak kampus. Kami akan memulai pilot project di beberapa tempat untuk mendekatkan pendidikan etik tersebut di kalangan generasi muda," ujar Dewa.


Anggota DKPP I Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi saat Rapat Fasilitasi Pemberitaan DKPP Melalui Kemitraan Strategis Humas dan Media Massa di Kabupaten Bogor. (Dokumentasi/ Humas DKPP)


Ia menilai pendidikan demokrasi dan politik perlu disampaikan dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami oleh Gen Z. Menurutnya, pola komunikasi yang selama ini cenderung filosofis dan normatif perlu diubah agar lebih dekat dengan keseharian anak muda.

"Saya berterima kasih atas masukan-masukannya mengenai bagaimana mentransformasikan pola komunikasi DKPP sehingga bisa menjadi lebih ringan dan lebih enak dicerna. Tidak semata-mata membahas hal yang filosofis, abstrak, atau bahkan normatif," ucapnya.

Dewa juga menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membuat media memiliki peran yang semakin besar dalam pendidikan demokrasi. Sebab, informasi kini lebih mudah menjangkau masyarakat melalui perangkat digital yang digunakan setiap hari.

"Di tengah kemajuan AI ini, mungkin media akan lebih berperan dalam melakukan pendidikan demokrasi, politik, dan sebagainya. Karena mereka akan menyentuh langsung, bukan hanya di kelas atau bangku kuliah, tetapi langsung ke saku mereka melalui gadget," tuturnya.


Anggota DKPP Ratna Dewi Pettalolo saat Rapat Fasilitasi Pemberitaan DKPP Melalui Kemitraan Strategis Humas dan Media Massa di Kabupaten Bogor. (Dokumentasi/ Humas DKPP)


Sementara itu, Anggota DKPP Ratna Dewi Pettalolo mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan tim kehumasan dalam menjangkau kalangan muda. Ia juga menyoroti respons publik terhadap Festival Etik yang menunjukkan bahwa generasi muda memiliki perhatian terhadap isu pemilu meski belum pernah menggunakan hak pilih.

"Alhamdulillah, respons publik sangat luar biasa. Bahkan, keterlibatan Gen Z itu luar biasa. Pemenangnya bahkan dari anak muda yang belum pernah ikut memilih," ungkap Ratna.

Ratna berharap berbagai upaya tersebut dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pemilu 2029. Ia juga menilai kolaborasi dengan media menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas jangkauan pendidikan etik kepada masyarakat.

(Silvana Febiari)