Harga Emas Dunia Bangkit Lebih dari 1%

Ilustrasi kenaikan harga emas. Foto: Freepik.

Harga Emas Dunia Bangkit Lebih dari 1%

Husen Miftahudin • 10 July 2026 08:48

Chicago: Harga emas dunia menguat lebih dari satu persen pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah sempat menyentuh level terendah dalam sepekan pada sesi sebelumnya. Penguatan didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan turunnya harga minyak yang meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
 
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan mengenai arah suku bunga.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 10 Juli 2026, harga emas spot naik 1,2 persen menjadi USD4.124,36 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka turut menguat 1,2 persen ke level USD4.133,17 per ons.
 

 

Pernyataan Trump redakan kekhawatiran pasar

 
Sentimen pasar membaik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Washington menyusul eskalasi konflik terbaru. Sebelumnya, harga emas sempat tertekan setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan dalam eskalasi terbesar sejak kedua negara menyepakati kesepahaman perdamaian sementara pada bulan lalu.
 
Militer AS melancarkan serangan terhadap sekitar 170 target di Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal tanker minyak komersial. Menurut media pemerintah Iran, angkatan bersenjata negara tersebut kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di kawasan.
 
Dalam rangkaian KTT Organisasi Pakta Atlantik Utara (NATO) di Turki, Trump menyatakan gencatan senjata antara kedua negara telah berakhir. Ketika ditanya mengenai kemungkinan konflik berkembang menjadi perang skala penuh, Trump memberikan jawaban singkat. "Saya tidak tahu," kata Trump.
 
Trump juga mengatakan Iran telah menghubungi pemerintah AS untuk membahas peluang tercapainya kesepakatan. "Mereka menelepon beberapa waktu lalu. Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Saya hanya tidak tahu apakah mereka layak membuat kesepakatan. Saya tidak tahu apakah mereka akan menghormati kesepakatan itu. Itulah masalahnya," ujar Trump.
 
Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar yang berharap konflik tidak berkembang menjadi perang berkepanjangan.


(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Pasar pelototi risalah rapat Fed

 
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni yang dipublikasikan sehari sebelumnya. Dokumen tersebut menunjukkan sejumlah peserta rapat mengemukakan alasan untuk menaikkan suku bunga. Namun, FOMC akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.
 
Proyeksi terbaru The Fed masih menunjukkan kecenderungan kebijakan moneter yang ketat seiring kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak.
 
Di sisi lain, sebagian besar peserta rapat menilai inflasi berpotensi kembali menuju target 2 persen secara bertahap. Sebagian lainnya memperingatkan tekanan harga masih dapat bertahan akibat tingginya permintaan yang dipicu perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), konflik Iran, maupun dampak kebijakan tarif.
 
Analis Pasar Senior Trade Nation David Morrison menilai risalah tersebut memperlihatkan perbedaan pandangan di internal bank sentral AS. "Risalah rapat FOMC dari pertemuan Fed bulan Juni dirilis tadi malam. Ini menegaskan para pembuat kebijakan tetap terpecah pendapat mengenai langkah suku bunga selanjutnya," ungkap dia.
 
"Tampaknya cukup banyak anggota berharap harga minyak yang lebih rendah, akibat meredanya permusuhan AS-Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, akan menyebabkan inflasi turun lebih cepat. Kondisi itu akan mengurangi kebutuhan pengetatan moneter yang agresif hingga akhir tahun," jelas Morrison.

(Husen Miftahudin)