Ilustrasi. Foto: dok MI.
Cadangan Devisa Naik, Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.640/USD
Ade Hapsari Lestarini • 7 September 2026 17:31
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin bergerak menguat dua poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.640 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.642 per USD.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan tipis rupiah dipengaruhi kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026, meski masih tertahan sejumlah sentimen eksternal.
"Rupiah ditutup menguat tipis terhadap dolar AS setelah data menunjukkan kenaikan cadangan devisa Indonesia pada Agustus," kata Lukman, dilansir Antara, Senin, 7 September 2026.
Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 sebesar USD146,5 miliar atau sekitar Rp2.584,26 triliun, meningkat USD1,2 miliar atau sekitar Rp21,17 triliun dibandingkan posisi akhir Juli 2026 sebesar USD145,3 miliar atau sekitar Rp2.563,09 triliun.
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI.
Namun, Lukman mengatakan penguatan rupiah masih terbatas karena investor mempertimbangkan eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta menantikan sejumlah data ekonomi penting dari dalam dan luar negeri.
"Untuk jangka pendek, walau momentum penguatan rupiah masih kuat, volatilitas eksternal diperkirakan masih akan mendominasi dan berpotensi menahan penguatan lanjutan rupiah," ujar dia.

Ilustrasi: Foto: Magnific.
Baca Juga :
Senin Pagi, Rupiah di Level Rp17.665/USD
Tekanan eksternal terhadap rupiah masih tinggi
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova juga menilai tekanan eksternal terhadap rupiah masih tinggi, terutama akibat kenaikan harga minyak dunia dan potensi arus modal keluar di tengah volatilitas pasar keuangan akibat eskalasi geopolitik.
"Dari global, tekanan terhadap rupiah masih tinggi akibat harga minyak yang naik di atas USD95," ucap Rully.
Harga minyak Brent pada perdagangan Senin berada di atas USD95 per barel atau sekitar Rp1,68 juta per barel seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dalam jangka pendek, Rully menilai rupiah masih menghadapi risiko arus modal keluar akibat volatilitas pasar keuangan seiring eskalasi konflik geopolitik.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan turut membuat pasar mencermati prospek kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
"Kuatnya penambahan lapangan kerja memungkinkan The Fed untuk lebih fokus pada aspek inflasi dari mandatnya," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, pelaku pasar selanjutnya mencermati data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed.