Rupiah dan dolar AS. Foto: dok MI.
Senin Pagi, Rupiah di Level Rp17.665/USD
Husen Miftahudin • 7 September 2026 09:40
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 7 September 2026, rupiah hingga pukul 09.30 WIB berada di level Rp17.665 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 23 poin atau setara 0,13 persen dari Rp17.642 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.631 per USD. Rupiah melemah tipis satu poin atau setara 0,01 persen dari Rp17.630 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.640 per USD hingga Rp17.690 per USD," jelas Ibrahim.
Eskalasi militer AS-Iran memanas
Ibrahim menjelaskan, pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen memanasnya eskalasi terbaru antara militer AS dan Iran setelah serangan AS terhadap target-target Iran awal pekan ini, termasuk aset-aset militer di dekat Selat Hormuz.
Kemudian, Iran membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap posisi-posisi AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar. Iran telah memperluas pembatasan pelayaran internasional di jalur perairan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran bahwa gangguan dapat terus berlanjut dan memperketat pasokan di pasar minyak global.
Konflik ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai jatuhnya korban sipil. Sebuah serangan AS dilaporkan menghantam lokasi pesta pernikahan di Iran bagian selatan yang menewaskan warga sipil, sehingga memicu kecaman dari Teheran atas serangan tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan AS tidak berencana mengadakan pembicaraan dengan Iran kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.
Di sisi lain, pasar merespons positif pernyataan dovish dari Gubernur Fed Christopher Waller yang membuat para pedagang tetap waspada terhadap kemungkinan pergerakan suku bunga pada bulan September.
Waller mengatakan ia "akhirnya melihat beberapa tanda disinflasi dalam data terbaru" dan bahwa "keputusan suku bunga pada bulan September bergantung pada inflasi bulan Agustus." Ia menambahkan ia akan mendukung mempertahankan suku bunga tidak berubah jika data Agustus mengkonfirmasi kemajuan baru-baru ini.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Gelontoran pemerintah angkat pendapatan masyarakat
Sementara itu, Ibrahim mengungkapkan pemerintah selama ini telah menggelontorkan anggaran besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Namun, kondisi berbeda dialami kelas menengah yang belum mendapatkan dukungan cukup.
"Salah satu persoalan yang disorot pemerintah adalah penurunan pendapatan dari kelompok tersebut. Subsidi tersebut tidak didapatkan masyarakat kelas menengah sehingga pendapatan mereka turun," papar dia.
Oleh karena itu salah satu cara untuk mengangkat kembali kondisi kelas menengah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Selain itu, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini rata-rata masih di kisaran lima persen.
"Kondisi ini belum cukup kuat untuk mendorong industrialisasi dan menciptakan lapangan kerja formal dalam jumlah besar," terang dia.
Oleh karena itu, guna untuk penciptaan lapangan kerja formal semakin kuat, maka pertumbuhan ekonomi perlu didorong hingga di atas 6,0 persen sampai 6,5 persen. Dampaknya investasi asing kembali masuk dan membangun insprastruktur serta membuka lapangan kerja baru dampaknya pendapatan masyarakat kelas menengah semakin meningkat. Hasilnya akan tercipta masyarakat kelas menengah baru dengan pendapatan yang lebih baik.
Namun, para ekonom menilai target pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,0 persen di 2027 tidak mudah dicapai di tengah tren suku bunga yang kembali meningkat. Investasi akan menjadi faktor penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan.
"Namun, kondisi suku bunga yang meningkat menjadi tantangan bagi pemerintah dan pelaku usaha ditambah tensi geopolitik global belum tentu selesai tahun depan," urai Ibrahim.