Rupiah. Foto: Metrotvnews.com/Husen.
Kamis Pagi, Rupiah Turun 0,30% ke Level Rp17.855/USD
Husen Miftahudin • 28 May 2026 09:49
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi ini kembali mengalami pelemahan, pascaperayaan Iduladha.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 28 Mei 2026, rupiah hingga pukul 09.41 WIB berada di level Rp17.855 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun sebanyak 54 poin atau setara 0,30 persen dari Rp17.801 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp17.785 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun tipis sembilan poin atau setara 0,05 persen dari Rp17.776 per USD.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipicu serangan baru AS terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal penebar ranjau di Iran selatan. Militer AS mengklaim serangan tersebut dilakukan untuk membela diri, dan bahwa gencatan senjata dengan Iran tetap berlaku.
Atas peristiwa tersebut, jelas dia, setiap aksi militer baru berpotensi mempersulit negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung antara AS dan Iran, terutama pasca Teheran berulang kali memperingatkan AS untuk tidak melakukan serangan lebih lanjut.
Sebelumnya, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan kerangka kerja untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran, dan mengklaim Republik Islam tersebut akan menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, namun Iran membantah rencana untuk melepaskan uranium.
| Baca juga: Rupiah ke Rp17.800/USD, Menkeu: Enggak Masuk Akal! |

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Tingkatkan risiko PHK
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah ini berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).
Lonjakan PHK disebut terjadi hanya dalam satu bulan terakhir. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja terdampak PHK mencapai 15.425 orang sepanjang Januari hingga April 2026. Kondisi itu mulai berdampak pada sejumlah perusahaan yang melakukan efisiensi hingga menghentikan operasional.
"Tekanan terhadap industri bukan hanya dipicu pelemahan rupiah, namun konflik geopolitik global juga mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri non subsidi yang turut menambah biaya produksi perusahaan," jelas Ibrahim.