Harga Emas Pulih setelah Sentuh Level Terendah Sejak Agustus

Ilustrasi emas batangan. Foto: fox5ny.com

Harga Emas Pulih setelah Sentuh Level Terendah Sejak Agustus

Husen Miftahudin • 9 October 2026 08:30

Chicago: Harga emas dunia menguat tipis pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah merosot ke level terendah sejak awal Agustus pada sesi sebelumnya. Kenaikan didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya tekanan jual di pasar obligasi, meski lonjakan harga minyak membatasi penguatan logam mulia tersebut.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 9 Oktober 2026, harga emas spot naik 0,6 persen menjadi USD4.135,42 per troy ons. Sementara itu, harga emas berjangka menguat 0,1 persen menjadi USD4.160,09 per troy ons.
 
Pelaku pasar logam mulia masih mencermati kenaikan biaya pinjaman di AS dan berbagai negara. Tekanan di pasar obligasi dipengaruhi kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak, peningkatan utang perusahaan untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta membengkaknya utang fiskal negara maju, termasuk Prancis.
 
Kondisi suku bunga tinggi cenderung menekan daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Sementara itu, kenaikan suku bunga juga berpotensi memperkuat dolar AS sehingga membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
 
Namun, tekanan di pasar obligasi pemerintah AS mulai mereda pada perdagangan Kamis. Imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun turun 5,5 basis poin menjadi 5,223 persen. Adapun imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun melemah 5,7 basis poin menjadi 5,604 persen.
 
Meredanya imbal hasil obligasi memberikan ruang bagi harga emas untuk pulih setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya.
 

 

Peluang kenaikan suku bunga Fed menyusut

 
Di tengah gejolak pasar obligasi, pelaku pasar masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober 2026.
 
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga berada di kisaran 83 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan sekitar 76 persen sepekan sebelumnya dan 54 persen sebulan sebelumnya.
 
Perubahan ekspektasi tersebut dipengaruhi data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas ekonomi masih berkembang, inflasi tumbuh lebih rendah dari perkiraan, serta kondisi ketenagakerjaan yang melemah.
 
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 197 ribu pada pekan yang berakhir 3 Oktober 2026. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak pekan yang berakhir 18 Juli 2026. Rata-rata pergerakan empat minggu klaim pengangguran juga turun menjadi 198 ribu.
 
Data tersebut dirilis sehari setelah publikasi risalah rapat kebijakan moneter The Fed pada September 2026. Risalah itu menunjukkan sebagian besar pejabat bank sentral memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan sebelum akhir tahun.
 
Perbedaan sinyal antara data ekonomi dan risalah rapat tersebut membuat prospek kebijakan moneter AS tetap menjadi perhatian pelaku pasar emas.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Lonjakan harga minyak batasi kenaikan emas

 
Penguatan harga emas pada Kamis tertahan oleh lonjakan harga minyak mentah. Kontrak berjangka minyak Brent, yang menjadi patokan global, naik 3,3 persen menjadi USD103,48 per barel.
 
Harga minyak sebelumnya sempat melonjak lebih dari lima persen dan berada di jalur kenaikan harian terbesar sejak 24 September 2026. Kenaikan dipicu serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur penting di Arab Saudi oleh kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran.
 
Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral.
 
Namun, kenaikan harga minyak sedikit terkoreksi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November 2026. Sebelumnya, majalah The Atlantic melaporkan pemerintah AS tengah mempertimbangkan langkah tersebut.
 
Trump juga menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung melalui unggahan di platform Truth Social. "Kami sedang mengadakan diskusi produktif dengan Republik Islam Iran," kata Trump.

(Husen Miftahudin)